Lakon Perang Gudang Batu: Tanamkan Rasa Nasionalisme lewat Cerita Lokal

AGS_1443Panggung Kampung merupakan salah satu agenda bulanan Rumah Dunia. Kali ini Panggung Kampung diisi dan dimeriahkan dengan pementasan teater dari kelompok teater Koseta Al-Irsyad Waringinkurung dengan lakon Perang Gudang Batu.

Banten Raya berkesempatan menikmati sajian tetaer yang disutradari oleh guru sastra di Al-Irsyad Waringinkurung, Rahmat Heldy HS  alias Rahel. Teater digelar di Panggung Teater Terbuka Tasikardi, Rumah Dunia, Kota Serang, Sabtu malam (31/10/2015).

Lakon itu dibuka dengan sekelompok santri yang mengaji kepada sang kiyai. Kemudian berganti cepat adegan lain, para warga bermunculan lengkap dengan lengking suara yang terdengar menyaat hati: lapar…lapar…. lapar.

Babak itu ternayata belum berakhir. Lakon selanjutnya disambung dengan percakapan antara pembantu dan si majikan yang tergila-gila pada Nyi Mas Ijo, anak dari Ki Wakhia. Nyi Mas Ijo merupakan gadis paling cantik yang lahir di Desa Waringinkurung, Banten. Kelak wanita ini yang menjadi incaran Tuan Meyer dari Belanda, dan menjadi sebab musabab petaka Perang Gudang Batu berkecamuk.

gudangSekali jumpa, Tuan Meyer langsung terpeseona dan jatuh cinta dengan kecantikan Nyi Mas Ijo dan berniat menikahi gadis itu. Lantas Tuan Meyer menyuruh penghulu Waringinkurung untuk menyampaikan maksud lamarannya menikahi Nyi Mas Ijo kepada ayahandanya, Ki Wakhia. Tapi permintaan Tuan Meyer ditolak oleh Ki Wakhia.

“Dengar baik-baik penghulu, sampaikan jawabanku pada si Belanda lancang itu. Aku menolak lamarannya dan anakku tidak akan pernah kawin  dengan orang belanda,” kata Ki Wakhia.

Lantas si penghulu menyampaikan kabar buruk itu kepada Tuan Meyer. Dan itu membuatnya jadi murka. “Verdom zeg! Berani dia menolak lamaran ik, ya! Apa sudah bosan hidup?” kata Tuan Meyer mengumpat sejadi-jadinya.

Disinilah awal mula percik-percik terjadinya perang Gudang Batu, yang merupakan salah satu nama kampung di desa Waringinkurung. Ancaman Tuan Meyer itu tidak main-main. Perasaan kecewa yang amat dalam membuatnya semakin murka dan lupa diri. Tuan Meyer lantas menyewa dua jagoan untuk membuhun Ki Wakhia. Namun Ki Wakhia memiliki ilmu yang tinggi dan malah dua jagoan yang berniat membunuh Ki Wakhia itu bertarung satu sama lain atas doa dari Ki Wakhia. Akhirnya dua jagoan itu menjadi pengikut Ki Wakhia.

Lantas kelompok Ki Wakhia dan para santrinya menyusun rencan untuk memberi pelajaran kepada si penghulu yang sudah menjadi antek-antek Tuan Meyer dari Belanda.

Maka perangpun pecah. Yang pada akhirnya kelak dimenangkan oleh kelompok Ki Wakhia.
Usai pementasan, diadakan diskusi ringan oleh panitia. Rahel megakui teater garapannya barangkali masih banyak kekurangan. “Saya sengaja mementaskan naskah drama lokalitas. Saya kira tema ini penting bagi kita dalam menyampaikan dan mengulang kembali sejarah tentang perjuangan bangsa, terumata di wilayah Waringinkurung,” kata Rahel.

Rahel menambahkan, selain hal tadi, ada nilai lain ingin disebarkan Rahel baik bagi para pemain maupun penonton. “Saya ingin menyampaikan rasa nasonalisme di tengah keterpurukan bangsa ini yang mulai carut marut dan banyak juga polemik-polemik yang menuju ke arah perpecahan. Saya ingin dalam konteks pementasan ini,  kita semakin memiliki rasa naonalisme dan menjaga keutuhan bangsa dan Negara. Apalagi konteks dalam pertujukan ini adalah melawan penjajahan Belanda,” terangnya.

Teater Koseta dikatakan Rahel berdiri sejak 2005. “Bagi saya tidak pernah berpikir menjadikan anak-anak didik saya jadi juara. Tetapi bagaimana kita bisa pentas dan bisa dikenal. Jadi untuk menjadi juara butuh waktu dan keseriusan. Jadi bagi saya sudah bisa memanggungkan mereka di depan publik untuk tampil, kami sudah sangat bahagia,” ujarnya.

Rahel juga berharap anak-anak didiknya ini kalaupun masih menempuh pendidikan di sekolah Al-Irsyad, bisa tetap terus eksis. “Dan jika mereka sudah lulus, mudah-mudahan mereka masih bisa mengikuti kegiatan teater dan menjadi aktor yang terkenal nantinya,” katanya.

Firman Venayaksa, dosen sastra Untirta Kota Serang, mengapresiasi atas pementasan teater anak-anak Al-Irsyad Waringinkurung ini. “Saya pikir ketika anak-anak pada usia mereka bisa tampil dan berani mementasan teater, ini bagi saya sesuatu yang luar biasa. Meski pun tentu saja ada beberapa kekurangan yang terdapat dalam pementasan tadi, seperti bloking yang kurang, lagu ketaro yang menurut saya tidak pas dijadikan musik pendukung. Itu kritikan-kritikan yang membangun, agar kita tahu apa-apa yang mesti dilengkapi saat berteater selanjutnya,” ujarnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.