Sarapan Toprak di Muara Bungo Jambi

3-toprakSetiap mengunjungi sebuah kota, saya paling suka jalan-jalan pagi. Tujuannya adalah ingin melihat kesibukan kota di awal sebuah hari. Juga merasakan menu khas sarapan pagi. Begitu juga di Muara Bungo. Saya, Berlian, dan Yusnaldi mencari-cari sarapan yang enak. Kami terus menyusuri Jalan Dahlia, taman Semagor, dan Kantor Pos. Ada gerobak bubur ayam. Saya sarapan bubur. Tapi, Berlian dan Yusnaldi memilih bur kacang ijo yang bersantan plus lupis. Usai bubur, kami melanjutkan perburuan sarapan.

Kami menuju Masjid Raya Muara Bungo. Ada “toprak” Mang Khairi. Saya merasa heran, kenapa “toprak”. Biasanya ‘ketoprak”. Banyak orang antri sarapan. Ada yang dibungkus dibawa pulang, tapi ada juga yang sarapan di tempat. Pembelinya beragam. Semangkok Rp. 90 ribu. Kami sarapan lagi. Enak.

Saya tanyakan kepada Mas Khairi, “Kenapa ‘toprak’, Mas?” Mas Khairi yang awalnya tukang ojek, pada 2009 mulai jualan toprak, menjuawab. “Kalau ketoprak, itu wayang orang,” katanya.

Mas Khairi menyewa tempat di halaman samping sebuah rumah setahun Rp. 3 juta. Sehari Mas Khairi berhasil mendapatkan uang Rp. 600 ribu. Lumayan juga. Beberapa pelanggan mengaku ketagihan sarapan toprak Mas Khairi. Enak, kata mereka.

Mau nyoba? Kalau ke Muara Bungo, mampir saja ke Masjid Raya. Di depannya ada toprak Mas Khairi. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.