Daily Archives: 21 Januari 2016

Tempat Jogging yang Asik di Kopasus Serang

IMG_20160121_171341Di tengah hiruk-pikuk lalu lintas kota Serang yang padat, ternyata masih ada satu tempat yang sejuk dan asik sebagai sarana olahraga, yaitu di Taman Kopasus, Kecamatan Taktakan, Kota Serang. Untuk menuju lokasi, hanya butuh waktu sekitar lima belas menit dari pusat kota. Kita akan disuguhkan suasana yang asri dengan banyaknya pohon-pohon hijau yang menghiasi. Selain fasilitas track jogging, di sini juga tersedia sarana olahraga lainnya seperti lapangan sepak bola, areal bersepeda dan kolam renang.

Sejarah (Awal) Rumah Dunia

Gola-Gong-2Setelah saya harus menutup Tabloid Banten Pos (1993), karena dianggap meresahkan masyarakat Serang dan Kapolres Serang — dengan cara meletakkan pistol di meja kerjanya dan meminta saya untuk menutupnya atau kalau tidak saya akan diproses secara kedinasan —  saya memilih pergi ke Bandung. Tapi di dalam hati saya berkata, ibarat Jendral Mc Arthur, “I will return…” Saya akan kembali ke Banten, suatu hari. Kemudian Saya bekerja sebagai wartawan Tabloid Karina (Kartini Group, 1994 – 1995) di Bandung, bersama Maulana Wahid Fauzi (Direktur Baraya TV).

Memperbaiki Nasib Lewat Bahasa Mandarin

8-AlanbelajarPertama kali saya traveling di Taiwan pada September 2015. Saya dijemput di bandara Taiwan, Taoyuan International Airport oleh Boedhi Utomo, Ketua Yayasan Bhakti Jaya Indonesia, yang mengundang saya. Dan Alan Li, mahasiswa yang sedang belajar Bahasa Mandarin. Mereka berdua bukan tipe orang biasa. Mereka adalah orang dengan predikat luar biasa. Mereka adalah orang yang ingin mengubah nasib lewat dunia literasi di negeri orang.

Passport, Traveling dan Tuliskan

kacamataSaya pernah membaca tulisan tentang “Passport” oleh Reynald Kasali di koran KOMPAS. Tulisan itu mengena sekali. Makanya hingga hari ini saya masih suka travelling, walaupun sifatnya mendorong para relawan Rumah Dunia. Saya memiliki passport pada 1987, ketika teman-teman se-SMA dan se-kuliah menganggap pergi ke luar negeri itu mewah dan harus anak menteri dan diplomat, bekerja di kedutaan, atau lewat jalur (beasiswa) mahasiswa. Saya baru berhasil keluar dari tempurung bernama Indonesia ke Kuching, Malaysia, melewati pintu Entikong (Kalimantan Timur)  3 tahun kemudian. Saat di Kuching, saya semakin yakin, bahwa negeri Indonesia diurus oleh orang-orang tidak waras.