Perang Hitam di Banten

12336110_10205076950638032_1893678384_nSebelas
SANG PENYELAMAT
Murja sudah mendekat. Satria kini tak ksatria lagi. Tergolek tak berdaya. Angga mundur. Terus. Hingga beberapa langkah. Murja terus merangsek. Meski tubuhnya gontai. Kini jarak keduanya hanya sekitar dua meter.
“Bangsat lo, ya!” teriak Murja.

Semakin dekat. Kakinya sudah menginjak Satria. Angga semakin ketakutan. Mely semakin ketar-ketir. Tangan legam Murja sudah terangkat. Siap menggodam kepala Angga. Iblis sudah semakin menguasainya. Merasukinya. Angga menyilangkan kedua tangannya. Reflek. Mukanya meringis. Ia sadar ia salah. Tak ada yang dipikirkannya selain mengalah.

Di jalanan terdengar suara menderu. Mungkin pembalap liar nongol lagi. Pembalap liar yang selalu dicaci masyarakat sekitar. Namun tangan yang disilangkan Angga tidak semata menjaga godam Murja, melainkan untuk menahan silau sorot lampu motor di depannya. Dengan telapak tangan itu juga ia menahan tubuh tambun yang tiba-tiba saja hendak menabraknya. Semakin terhuyung-huyung. Seseorang menendang pantat Murja dari belakang, dari atas motor.

“Kawan! Ayo lari! Bawa motormu!” teriak seorang remaja dari balik helm. Ia terus berteriak, hingga Angga sadar.
“Ayo cepetan! Mumpung dia mabok!”
Angga segera membangunkan Satria. Menghidupkan mesinnya. Mengenakan kembali helm. Tak peduli dulu pada dewa penolongnya itu. Mesin kembali menderu. Lampu telah menyala.
Broot!!!

Nampak Angga melihat seulas wajah gadis dari dalam mobil yang terkena sorot motornya. Namun hanya sekilas. Si gadis langsung merunduk.

“Ayo! Cepat!” teriak laki-laki dari balik helm.

Si Tambun sudah kembali mencoba bangkit. Lalu terjatuh lagi. Tak lama dua motor melaju kencang. Yang satu RX-King satu lagi Satria. Meninggalkan Murja dan si gadisnya. Terus melaju dan melaju.

“Anton!?” teriak Angga ketika si penunggang King di depannya membuka Helm. Tuhan menolong Angga dengan cara mempertemukannya dengan Anton, teman semasa di pesantren yang kini menjadi seorang polisi.

***

Rumah bunga hening dan dikepung hawa dingin musim kemarau malam ini yang menyusup hingga pori-pori. Malam kian mencekam. Hanya beberapa kendaraan yang seliweran di jalan.

“Mang! Mang karim!” teriak Asih.
“Iya, Bu!”
Karim segera keluar. Ia mengenakan baju piyama hitam dan peci hitam kemerah-merahan. “Ada apa, Bu?”

“Mamang baru shalat?” Asih takut mengganggu.

Karim mengangguk.

“Mang, Raka sama Angga sudah jam sebelas begini belum juga pulang. Kata Angga, Raka sedang main ke rumah temannya di Pandeglang. Kemungkinan dia menginap. Mamang jangan dulu tidur, yah? Angga masih di jalan.”
Asih menguap.
“Iya, Bu!”
“Mang… perasaan saya kok, nggak enak. Saya takut terjadi apa-apa sama anak-anak,” Asih menghela napas. Lalu mulutnya kembali menguap. “Bik Rasmi sudah tidur?”
“Sudah, Bu.”
“Ya sudah! Saya tidur dulu yah, Mang.”

Asih meninggalkan Karim yang masih duduk di kursi. Tubuhnya terasa berat. Kakinya juga serasa sulit dilangkahkan. Ia kembali menguap. Entah sudah yang ke berapa kali. Karim menatap Asih sampai masuk dan memadamkan lampu kamarnya. Tak henti-hentinya Karim membacakan puji-puji dan do’a perlindungan agar keluarga majikannya dihindarkan dari marabahaya. Karim segera bangkit.

Ia masuk ke dalam kamarnya yang tak begitu jauh dengan kamar Asih. Nampak istrinya terlelap. Ia hanya menatapnya sekilas. Lalu ia kembali duduk bersila di atas sajadahnya. Ia mengambil tasbih hitam kayu cendana yang sempat ia lepaskan ketika suara Asih memanggilnya. Ia juga kembali mengenakan sorban putihnya. Kembali memejamkan mata. Mulutnya berkomat-kamit. Terus berzikir tak putus-putus. Terus dan terus. Ia menggeleng-gelengkan kepala. Cepat dan cepat. Tak terhitung putaran tasbih di tangannya. Was-wes-wos dari mulutnya terdengar jelas sekali di keheningan malam.

Malam terus merambat. Sudah hampir tiga jam Karim duduk bersila. Tiba-tiba sejenak ia menghentikan ritualnya. Sejenak ia membuka matanya. Lalu menarik napas dalam-dalam dan kembali menghembuskannya. Ia terus saja memutar tasbihnya. Matanya sesekali melirik ke segala arah. Lalu terpejam kembali. Daun telinganya kini juga bergerak-gerak. Ia menangkap suara-suara asing.

Gemerisik daun dan hempasan angin yang menyentuh bunga-bunga seolah membisikan sesuatu padanya. Seisi rumah sudah terlelap. Hanya Karim yang terus saja membaca kalimat-kalimat asma Allah yang biasa dipakainya dalam menghadapi berbagai kesulitan. Ia hanya terus membaca. Segala keputusan dan kehendak tergantung pada yang Mahakehendak. Ia harus bertahan. Kantuk mulai menyerangnya. Tiba-tiba saja kedua mata Karim mendadak terbuka lebih. Bangkit cepat. Mengambil sesuatu dari lemari. Lalu duduk kembali. Sebuah benda dibalut dengan kain hitam panjang, pelan-pelan digulungnya. Lalu ia mengangkatnya. Karim seperti Mushashi yang menguhunus samurainya. Kini ia juga sudah membuka gulungan kain hitam tadi. Sebuah golok berkepala ular ia hunus pelan-pelan dengan tangan kanan menggenggam erat gagangnya. Sementara jari-jari kirinya mengapit sarungnya dengan ibu jari dan keempat jari lainnya. Karim bangkit. Melepas kain sarung dan segera mengenakan celana komprang hitam.

“Selamat datang tamu tak diundang!”

Lampu ruang tengah gelap gulita. Hanya beberapa pendaran cahaya dari aquarium dekat tangga lantai dua. Karim segera mencopot sandal jepitnya, bergegas keluar kamar dengan mengendap-endap. Kini pakaiannya juga sudah serba hitam. Hitam dalam gelap.
Di luar, nampak sesosok tegap meloncati pagar.
Tap! Satu turun.
Tap! Tambah satu.

Keduanya mendekat. Terus mendekat. Karim menunggu di depan pintu. Dia sudah bersiap memberi sambutan penghormatan pertama pada tamunya. Dua bayangan itu terus merangsek. Dekat semakin dekat. Mereka tak menyadari kalau gerak-geriknya sedang diawasi. Karim tersenyum. Melihat tikus-tikus yang mencoba menggondol harta korbannya. Dasar pemalas!

“Selamat datang, Dak!” Karim bersuara. “Aing siap meladeni!”
Dua orang itu saling tatap ketika ulahnya diketahui. Dari balik topeng, mata mereka membelalak. Saling pandang.
“Hajar!” ujar laki-laki bertopeng yang berbadan lebih tinggi.

Lalu keduanya mengeluarkan golok dan langsung mengurung Karim. Golok berkelebat-kelebat di wajah Karim. Berputar-putar. Karim tak kalah siap. Dia sudah mempersiapkan golok yang sedari tadi bersembunyi di balik tangan kanannya, dengan posisi gagang dipegang terbalik sehingga senjatanya tak terlihat.
Beth!

Si Jangkung menghadiahkan sabetan golok ke kepala Karim. Namun gagal karena sasarannya bergerak cepat dengan hanya mendorong kepalanya ke belakang. Sabetan itu hanya disambut angin.
Hup!

Sebuah tendangan terbang melayang ke arah dada. Itu tendangan si pendek. Sebenarnya Karim bisa saja langsung memenggal kakinya dengan golok yang masih tersembunyi, namun Karim hanya kembali menggeser kakinya dengan diikuti badannya ke samping.

“Jawara juga, kamu!” ucap si pendek kekar.
“Jangan dulu ngomong jawara!” jawab Karim. “Mari buktikan siapa yang lebih pantas disebut jawara!”
Hiaaat!

Keduanya langsung menerjang Karim dari segala arah. Mereka membabi buta. Meninju. Menendang. Membabat. Mengepung. Beberapa pot bunga di halaman menjadi korban pukulan dan tendangan kosong mereka. Tak henti-hentinya mereka terus mendesak Karim. Karim masih bisa malayani mereka dengan santai. Hingga kemudian.. Karim menggebrakkan kakinya ke tanah. Lalu berjongkok. Serangan bawah dari Karim tak bisa dielakan si jangkung. Kaki si jangkung tersangkut sapuan kaki Karim.

Gubragh! Jatuh bedebam. Punggung menghantam lantai. Si pendek kekar kembali menyerang. Karim menikmati posisi tubuh yang kini sudah berubah seperti semula. Kakinya kini sudah bagai ekor kuda. Bergerak kesana-kemari, menyingkirkan serangan bawah si pendek. Sebuah sabetan golok dapat ditangkisnya, menahan tangan musuh dengan kaki kiri dan langsung disusul dengan tendangan kaki kanan ke arah dagu. Tendangan yang sangat keras!
Dukh!

Duel sudah berlangsung cukup lama. Namun tak ada satu orang pun yang lewat di depan Rumah Bunga. Sepi. Semuanya terlena. Karim mundur beberapa langkah. Ia berdiri tegap. Prak! Karim menjatuhkan sarung goloknya.
Kini ia sudah siap bermain-main dengan si kepala ularnya. Kilatan-kilatan golok yang berputar-putar di tangan Karim berbenturan dengan mata-mata di balik topeng. Menciutkan nyali.

Kedua laki-laki itu malah menyerang membabi buta kembali. Suara dentang golok saling silang mengiris telinga. Terus mencabik. Membabat. Satu kesempatan emas tak disia-siakan Karim. Ia segera menggoreskan mata goloknya ke lengan si kekar yang mencoba membelah kepalanya.

“Aaaarggh..!” si Jangkung mengerang.
Membuat si pendek merasa kecut.
Trek!

Lampu halaman depan menyala. Rupanya Asih terbangun mendegar baku hantam. Ruangan tak lagi gelap. Semuanya jelas terlihat.
“Kang Jalak Ireng?” teriak si Jangkung.
Karim tersentak mendengarnya. “Siapa kalian?”
Namun kedua laki-laki di depannyanya hanya saling pandang. Tak lama. Kadua laki-laki itu langsung beringsut ketika pintu terbuka.

Asih keluar dengan Rasmi.

“Garong! Rampok!” teriak Rasmi spontan ketika melihat dua laki-laki bertopeng yang masih memegang golok. Namun tetangga-tetangga tak ada yang mendengarnya. Tetangga sekitar masih masih lelap. Tak lama terdengar sebuah mobil menderu kencang. Membelah malam. Menggilas aspal dingin. Pergi meninggalkan rumah bunga. Karim menceritakan kajadian tadi. Asih berubah panik. Trauma menggulung di hatinya. Rasmi terus mencoba menenangkan majikannya. Tak lama, sebuah motor mendekat. Suaranya sudah akrab di telinga. Suara klakson pun terdengar. Angga telah datang.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.