Perang Hitam di Banten (12)

TAMU CEROBOH

Gunung Karang bisu dan kaku di tengah malam ini. Bayangan hitam mendekati sebuah pesantren. Berbarengan dengan kaburnya rampok-rampok yang duel dengan Karim di rumah Asih. Sosok itu tak peduli pada gemerisik dedaunan yang membisiki telinganya untuk mengurungkan niat. Burung malam dan katak di sawah ikut meneriakan kedatangannya pada penghuni komplek pesantren itu. Dia adalah Raka yang terus merangsek maju. Tak ada lagi perhitungan logis dan etika di kepalanya. Raib sudah perhitungannya. Ia hanya menuruti hatinya. Meski apa pun yang akan terjadi. Ia terus maju. Hanya itu cara bertemu Hayyul.

Sementara, motornya sudah dititipkannya di warung depan, dekat pamakaman seorang ulama besar di Pandeglang. Raka mengaku hendak berziarah ke makam yang berada di bawah areal pesantren. Namun ia hanya mengucapkan do’a salam pada ahli kubur yang pernah ia pelajari semasa di pesantren. Baginya, tidak sopan apabila hendak menyusup harus terlebih dahulu berziarah. Komplek pesantren sudah benar-benar sepi. Hanya beberapa saja yang terdengar lamat-lamat membaca kitab, mengobrol, bahkan cekak-kikik dari dalam kamar bilik. Semuanya tidak ada yang berada di luar kamar. Mata Raka beredar kesana-kemari. Terus menyeruak ke sudut-sudut kompleks. Memastikan tak ada satu santri pun yang masih berkeliaran. Ia juga memastikan kalau masyarakat setempat juga sudah sepi. Tak ada yang melintasi di sekitar pesantren itu.

Raka menarik napas. Lalu menghembuskannya dengan pelan. Ia akan segera masuk gerbang. Namun baru saja kakinya melangkah, tiba-tiba ia berubah pikiran. Ia teringat Hayyul. Bagaimana kalau dirinya ketahuan? Hayyul juga yang akan malu. Ada rasa kasihan pada Hayyul. Menunggu siang, lalu sengaja mendatangi Kiai untuk minta izin bertemu? Rasanya mana mungkin. Ia bingung. Terus ragu. Alah! Alangkepalang ia sudah di sini. Ia harus bertemu dengan Hayyul malam ini juga. Walaupun Raka sendiri tidak tahu kamar Hayyul yang mana.
Sejenak Raka memperhatikan beberapa kain sarung, kerudung, dan beberapa potong pakaian yang masih tergantung di jemuran bambu di depan kamar-kamar panggung, untuk memastikan keberadaan si pemilik. Cara itu sering ia lakukan ketika menyusup menemui Hayyul semasa di pesantren Kiai Hasan.

Raka berhasil mengenali kain sarung dan kerudung Hayyul! Seketika ia langsung mengendap-endap maju. Mendekati sebuah kamar. Ia terus mendekat. Sesekali bersembunyi di balik pohon, ketika dua santri berkerudung handuk, keluar dan menuju ke kamar mandi. Napas Raka tersengal-sengal. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia akan terima apapun kemungkinan yang terjadi. Lalu ia mengatur napasnya, berusaha untuk tenang. Ia masih belum bergerak lagi.

Setelah dirasanya aman, ia kembali meneruskan aksinya. Lampu-lampu di depan setiap kamar nampak terlihat kecil. Hanya lima watt kira-kira. Itu sudah lazim di kalangan pesantren. Alasannya, hemat biaya. Suasana remang. Dan itu membuat Raka leluasa bergerak. Tak butuh lama, ia sudah berhasil menembus halaman depan pesantren, sesekali tiarap di tanah. Bentuk lokasi pesantren itu seperti huruf L. Mudah-mudahah Hayyul belum tidur! Pekiknya dalam hati.
Suasana bertambah sepi.

Raka merasakan hawa yang lebih dingin. Perlahan pori-porinya merekah. Namun ia terus maju. Suara-suara jangkrik dan binatang malam di pesawahan dan perkebunan juga terdengar semakin jelas. Sejelas suara tarikan napas Raka saat ini. Ia sudah sampai di depan kamar yang dituju. Ia merapatkan punggungnya dengan kamar bilik yang biasanya bagian dalamnya dilapisi kertas, agar tidak terlihat lubang-lubangnya dari luar. Lampu dalam kamar tersebut sudah padam. Mungkin penghuninya sudah terpejam. Raka bersiap dengan langkah berikutnya. Ia hendak mengetuk jendela kayu di belakangnya. Tepat di kepalanya. Ia masih sempat tengak-tengok. Lalu…

Tok! Tok! Tok!

Tiga ketukan terdengar. Angka tiga itu adalah sandi yang dulu dipakainya setiap kali menyelinap ke asrama putri untuk menjumpai Hayyul. Raka berharap mudah-mudahan Hayyul bisa mengingat kode itu. Namun hingga ketokan bertambah.Enam. Sembilan. Dua belas…. Tak ada yang menyahut. Raka belum putus asa. Ia terus mengetuknya. Terus dan terus. Keras. Semakin keras.

Namun tetap saja. Nihil.

“Yul! Ini kak Raka, Yul” bisiknya pelan.

Lampu tetap saja gelap. Tak ada jawaban juga. Semuanya membisu. Bahkan santri-santri nampaknya sudah benar-benar terlelap semua. Hanya binatang malam saja menertawakan Raka. Raka terdiam. Di kepalanya, tumpang tindih pikiran bermunculan. Namun ia terus mencari cara. Ia terdiam.

Tililit! Tililit! Tililit!

Tiba-tiba saja ponsel klasik Raka berdering. Deringnya semakin membesar. Ia panik. Ia lupa menggantinya dengan getar saja. Raka panik bukan main. Dalam kondisi genting begitu, ia merasa menjadi manusia paling ceroboh di dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.