Perang Hitam di Banten

Empat Belas
SAAT KARIM MENANGIS
Perang-Hitam-e1453969684207Saat Hayyul dan Warni sudah berada di dalam angkutan kota menuju Pandegelang kembali, Asih segera mengumpulkan anak-anaknya. Asih memberi petuah. Ia mengatakan dirinya tidak pernah melarang anak-nya pacaran dengan siapa pun. Raka dan Angga juga boleh bekerja di bidang masing-masing.

”Mamah ingin kalian merawat Rumah Bunga ini.”

Lalu Asih bercerita kalau dulu, setiap malam sebelum tidur, Papa Raka dan Angga mengidamkan rumah seperti ini. Setiap bicara tentang suaminya, mata Asih kembali bercahaya.

“Yah… Papah kalian ingin melihat anak cucunya berkumpul di dalam rumah yang sehat. Rindang. Jauh dari hiruk-pikuk kendaraan dan sesak polusi udara.”

Raka dan Angga juga hanyut dalam suasana. Haru.

“Raka.. Angga… Mamah minta maaf kalau selama ini kalian selalu jauh dengan Mamah. Masa kecil kalian ditempa di pesantren.”

Asih pun terus bercerita banyak.

”Bukannya Mamah tega berpisah dengan kalian. Saat itu, Mamah tidak bisa lagi berfikir banyak. Mamah tidak bisa mengusut kematian Papah. Ka.. Ngga…”

Raka dan Angga saling pandang. ”Iya, Mah,” ujar Raka pelan.

”Mamah ingian kalian jangan dendam. Biarlah yang berwajib yang menganganinya. Keluarga kita sudah bahagia. Mungkin inilah hikmahnya.”

Lalu cerita pun semakin panjang mengalir.

”Dulu.. Mamah takut kalian juga terancam. Atas anjuran Eyang Kakung di Solo, Mamah masukan kalian ke pesantren. Uang tabungan Papah sebagian Mamah pakai untuk biaya kalian di pesantren. Selebihnya, Mamah gunakan membeli bibit dan kembang untuk dijual kembali. Kalian tak pernah tahu bagimana Mamah harus bolak-balik menawarkan bunga pada pembeli.”

Asih nampak tertahan, namun kembali berbicara.

”Saat itu Mamah ikhlas. Mamah berdo’a agar suatu hari bukan Mamah yang mengantarkan bunga, tapi pembeli yang mendatangi Mamah. Hingga suatu hari Mamah bertemu dengan Mang Karim dan Bik Rasmi yang meminta pekerjaan pada Mamah saat Raka baru tiga bulan masuk pesantren!”
Senja semakin merunduk.

“Ternyata Tuhan memberi rizqi lebih pada Mamah. Atas kerja keras Mang Karim, Mamah mempunyai banyak pelanggan. Mang Karim rela menarik gerobak di bawah sengatan matahari untuk menjajakan tanaman dan kembang jualan. Entah bagimana cara Mang Karim menjualnya, hampir separuh jualan selalu laku. Bahkan tak jarang seluruhnya habis terjual. Mungkin mukjizat!”

Asih menyeka airmatanya.

Kedua anaknya terdiam. Kepala mereka dipenuhi gambaran penderitaan Asih yang tak pernah disaksikannya. Raka melihat dengan jelas darah itu. Sementara Angga hanya mendengar sirine polisi dan mobil ambulans meliung-liung.

Azan Maghrib berkumandang. Menggema di atas cakrawala. Menggiring umat untuk bersiap-siap melakukan shalat. Salah satu umat yang tergiring adalah Karim. Karim keluar kamar dengan pakaian taqwanya, menuju mushala keluarga. Tanpa sepengetahuan Asih dan anak-anaknya, kedua mata Karim nampak sembab. Ia mencoba menyembunyikannya. Karim mendengar semua ucapan Asih dari kamarnya. Karim terharu. Pun Rasmi. Rasanya ia ingin sekali menangis meraung-raung di dalam kamarnya. Ada sesak yang menghimpit dadanya. Sesak sekali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.