Proses Rano Karno Menjadi Banten, Pernah Diusir karena Bukan Orang Banten

Sebagai editor buku otobiografi “Rano Karno : Si Doel” (Gramedia, Oktober 2016), banyak hal “tabu” diungkap Rano. Penerbit Gramedia melihat Rano bukan sekadar gubernur Banten, tapi tokoh public yang mendunia. Banyak orang Banten yang tidak menyadari sisi hebat Rano ini. Dan kisah Rano sangat inspiratif, karena “menjadi simbol perjuangan from nobody to somebody.”

Tidak pernah ada yang tahu, kalau Rano gemar pergi ke perpustakaan Balai Pustaka dan taman bacaan di Pasar Senen. Maka tidak heran jika bersama Dindik dan Forum Taman Bacaan Masyarakat (TBM) menggelorakan “Banten Membaca” dengan “Satu Desa, Satu TBM”. Dewan Riset Daerah, Dewan Kesenian, dan Dewan Perpustakaan Banten, Rano hidupkan dan harus diisi oleh orang-orang berkompeten serta berdedikasi.

“Setiap saya mengambil kebijakan, semua harus berdasarkan riset. Maka saya bentuk Dewan Riset Daerah, yaitu kumpulan orang yang berkompeten di bidangnya dan mereka bukan tim sukses saya,” tegas Rano.

Rano juga ingin tradisi baca-menulis, belajar-mengajar yang diwariskan para Molana Banten kembali berdetak di tangan orang-orang yang berintegras di DKB ( Chavchay Syaifullah dkk ) dan Dewan Perpustakaan ( Gol A Gong dkk).

Saya jadi teringat, bagaimana perjuangan Rano sebelum definitif jadi Gubernur Banten. Saat jadi wagub, selama 2 tahun tidak diberi kewenangan apa pun oleh Atut sebagai gubernur (dan Wawan sang gubernur jendral). Bahkan untuk jabatan Ketua PKK yang mestinya (secara etika) dipegang Dewi – istri Rano, tapi justru diminati Hikmat Tomet – sebagai suami Atut. Rano berniat mengundurkan diri.

Setelah Atut dan Wawan dipenjara karena KKN, kubu dinasti masih memasalahkan Rano. Bahkan ada ormas yang berdemo dan secara terbuka mengusir Rano, karena bukan orang Banten.

Dalam setahun kepemimpinan (Agustus 2015 – Oktober 2016), dengan segala macam tekanan dari para loyalis Atut di SKPD Provinsi Banten, Rano terus membangun. KPK dijadikan.mitra. KKN dipangkas. ASN diberi kesempatan berkarya. Infrastruktur jalan diperbaiki. Iklim dialogis dan intelektual dibangun. Penghargaan kepada tradisi dan kebudayaan diperbaiki. Belum sempurna. Justru.kita yang harus melengkapinya.

Kita harus mendukung kebangkitan Banten, yang dimotori Rano. Dalam sejarah kegelapan Banten yang dibelit gurita dinasti, saya baru mendengar ada 4 orang yang berani secara terang-terangan dan propirsional melawan hegemoni.jawara dan dinasti.

Pertama HM Sampoerna (Bupati Serang era 90-an), yang berani mengusir ayah Atut saat hendak menagih proyek APBD.

Kedua Ustsad Sudarman asal Masura, anggota dewan dari PKS, yang head to head celurit versus golok dengan ayah Atut, juga menagih proyek dana perumahan, yang kemudian memakan korban Djoko Moenandar. Peristiwa ini diitulis koran lokal : jawara Banten ngoncog anggota dewan. Saya juga.mendengar langsung dari ustad Sudarman. Peristiwa ini jadi perbincangan hangat di kaum pergerakan. Ustad Sudarman dari PKS jasi legenda hidup kami. Dia jadi simbok perlawanan, ketiika saat itu semua anggota dewan bertekuk lutut di kaki Atut fan ayahnya, sekitar 2004.

Ketiga Uday Suhada dari Aliansi Independen Peduli Publik, yang membongkar dana hibah ke keluarga serta kroni Atut. Ada sekitar Rp 29 milyar dana hibah dikucurkan ke lembaga dan organisasi yang dipimpin keluarga Atut. Uday sampai harus berpindah-pindah tempat, diamankan dari hotel ke hotel oleh Triyana Syamun, karena ancaman dari jawara hitam, suruhan dinasti Atut, sekitar 2011.

Keempat Rano Karno, yang berani menolak dipasangkan dengan dinasti Atut (Andika anak Atut dan Jaman adik Atut) di Pilkada Banten 2017. Saya mendengar, bisik-bisik tetangga, diduga dana Rp 150 milyar ditawarkan ke Rano, agar mau berpasangan dengan Andika Hazrumy atau Jaman. Tapi Rano menolak mereka dan memilih jawara putih, Embay Mulya Syarief. Saya menelusuri informasi-informasi rahasia, juga ada dugaan mahar, tapi saya tentu tidak bisa membuktikan, bahwa sejumlah yang ditawarkan ke Rano itulah , Andika berhasil meminang Wahidin. Dan diduga juga, Atut dan Wawan yang mengatur itu semua dari balik penjara. Koran lokal dan media online pernah menuliskan dugaan Wawan sering melakukan konsolidasi di penjara Kota Serang. Itu sebabnya Wawan dipindahkan.lagi ke Sukamiskin. Saya berharap dugaan-dugaan ini tidak benar. Tapi jika benar, betapa bobroknya para politisi Banten. Terutama dinasti Atut, yang tidak kapok dengan sifat KKN-nya. Astaghfirullah…

Maka saya sebagai Ketua Dewan Perpustakaan Banten akan membedah buku otobiografi Rano ini di 2 tempat; 23 Desember di Pontang dan 29 Desember di Tangerang.

Mari, kita membaca Banten dari seorang Rano, yang oleh kubu dinasti Atut dituduh PKI (komunis) dan bukan orang Banten…

Bismillah….

#menolaklupa
#BantenBangkit
#bongkardinastikorupdibanten

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.