Mengenal Lebih Dekat Sinematografi Terbaik Banten

Rudi Gunawan, atau biasa dipanggil Igun adalah salah satu sinematografi terbaik Banten saat ini. Dedikasinya terhadap dunia perfilman di Banten pun sudah tidak bisa diragukan lagi. Hal itu bisa dilihat dari beberapa karya yang sudah ditelurukannya seperti film Hilang, Seputih Cinta Kita, Negeri Pasar, dan Jawara.

Bermula dari belajar skenario di Rumah Dunia yang diasuh oleh Gol A Gong, Igun terus mengasah kemampuanya dengan belajar tekun dalam mendalami pengeditan film, penyutradaraan, serta fotografi. “Di Rumah Dunia intelektualitas saya berkembang, terutama dalam peningkatan pembuatan skenario. Sebab film bukan hanya efek visual saja, tetapi juga kata-kata yang ada dalam film itu,” kata lelaki kelahiran Serang 3 Maret 1983 ini.

Atas kerja kerasnya di bidang film itu, kini igun sudah mendapatkan anugerah seni dari Dewan Kesenian Daerah Banten kategori sinematografi tahun 2016. Tetapi menurut Igun, dirinya tidak begitu saja puas, dia ingin melanjutkan karya filmnya yang masih digarap. Igun tidak menampik anugerah yang diterimanya itu begitu sangat berarti bagi dirinya, namun lagi-lagi Igun menegaskan bahwa hal itu tidak membuatnya silau dan sombong.

“Saya akan melanjutkan film Jawara lagi. Melihat antusias masyarakat atas film Jawara yang pertama membuat saya termotivasi untuk cepat menyelesaikan seri yang keduanya,” kata Igun yang juga merupakan relawan Rumah Dunia.

Bukan hanya sibuk pada dirinya sendiri saja, Igun juga sangat peduli terhadap orang-orang yang juga konsen di dunia film, utamanya yang masih sangat muda belia. Igun sering sharing dengan mereka dan saling memberikan masukan baik di komunitas film Rolling n’ Action yang dilahirkannya, atau pun di komunitas film lain.

“Anak-anak (sineas muda Banten-red) mulai berkembang pesat dalam dunia visual dengan dibantu peralatan canggih seperti saat ini. Tetapi setelah saya perhatikan, terkadang masih ada kekurangan dalam kekuatan skenario yang dibangun. Kalau kualitas gambar yang dikeluarkan memang sudah bagus, tetapi kalau kekuatan kata dalam film itu tidak dibangun, maka akan akan mengurangi kualitas film juga,” ungkap Igun.(red)

*/Foto Indra Kesuma

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.