Merangkai Bahasa Tubuh

Pertemuan ke-4 pada Jumat (13/01), kelas Laboratorium Banten Girang dengan pemateri Kang Peri Sandi Huizche. Kami diterjunkan lagi ke lapangan untuk mempraktikkan apa yang akan dilakukan pada tubuh kami hari ini. Masih seperti Jumat lalu, kami memulainya dengan ‘warming up’ atau pemanasan. Melatih kelenturan tubuh, memulai dari organ yang paling atas, hingga yang paling bawah. Latihan ini ditempuh untuk mencapai kesiapan secara fisik, sebelum menghadapi latihan-latihan lainnya. Kami belajar merangkai bahasa tubuh

Dari ujung jempol kaki hingga ujung rambut merupakan rangkaian atau susunan tubuh. Setiap bagian tubuh memiliki kegunaannya masing-masing. Rambut untuk menutupi panasnya sinar matahari, mata untuk melihat, tangan untuk meraba, memegang dan lain sebagainya. Kaki untuk berjalan dan masih banyak bagian tubuh yang lainnya. Tubuh pun mampu merespon hal-hal yang di luar dari tubuh, seperti halnya ketika salah satu bagian tubuh kita tertusuk oleh duri makan akan terasa sakit ditempat yang tertusuk tersebut, maka itu termasuk respon yang dibentuk dari luar tubuh kita.

Lalu apakah tubuh kita mampu untuk tidak merespon hal tersebut? Tentu hal ini sangat bisa, kita tidak berfikir mengenai hal-hal gaib yang mejurus ke dalam sebuah amalan, namun semua respon yang ada dalam tubuh kita adalah sebuah stimulus dari otak kita atau yang sering disebut suggesti, jadi respon tubuh kita itu diatur oleh pikiran kita (Suggesti). Berlatih adalah salah satu untuk dapat menghilakan respon mau pun membentuk respon. Seperti latihan ekstrim yang akan kita lakukan dengan cara bertahap seperti halnya berlatih untuk menahan sakit dan membiarkan tubuh kita rela akan rasa sakit yang dibuat oleh duri, batu tajam, paku dan lain sebagainnya. Salah satu kuncinya adalah merelakan tubuh kita dan menikmatinya, jangan dirasa dan jangan ragu untuk melakukan hal tersebut, karena dalam sebuah keraguan itulah yang membuat suggesti kita menolak tubuh kita menerima tusukan dari duri, krikil tajam, jarum, rasa dingin dam panas. Jadi relakanlah tubuh kita supaya menjadi salah satu bagian atau unsur yang sama dengan hal-hal yang disebutkan tadi.

Lalu apakah kita dapat membuat tubuh kita merespon hal-hal yang kita munculkan dalam sebuah imajinasi yang kita pikirkan dan menyesuaikan dengan apa yang hanya kita lihat dan belum kita rasakan sama sekali sebelumnya. Seperti halnya kita memikirkan sedang berada di kutub utara yang udaranya sangat dingin, berjalan di siang hari, tanpa menggunakan baju hangat. Otomatis kita harus buat tubuh kita bergetar, dari tangan, kaki, lutut, mulut kita harus menggambarkan seperti kita sedang berjalan di hamparan es.

Dari kedua hal tersebut tubuh kita sebenarnya dapat merespon dan tidak merespon pun bisa. Dengan kekuatan pikiran kita dapat mengubah 180° untuk mebuat hal itu menjadi apa yang kita pikirkan. Rangkaian inilah yang dapat disebut merangkai bahasa tubuh. Sehingga orang lain bisa tahu apa yang sedang kita respon dan apa yang sedang tidak kita respon. Dalam kajian ilmu komunikasi rangkaian bahasa tubuh merupakan bahasa non verbal yang berfungsi untuk mengekspesika, mempertegas, melengkapi dan mengefisienkan. Agar bahasa tubuh kita dapat dipahami oleh orang lain yang akan kita beri pesan maka kita harus sering menggambarkannya dan melihat di sekeliling kita, karena bentuk tubuh sangatlah di pengaruhi oleh Stratifikasi sosial (Tingkatan sosial) dari wilayah profesi, tingkatan pendidikan, lingkungan keluarga dan masyarakat.

Bagaimana ekspresi kemarahan seseorang yang memiliki ekonomi yang rendah dengan ekspresi orang yang tikakatan ekonominya tinggi, maka si orang yang ekonominya rendah akan sangat liar, kemarahannya di luapkan melalui benda-benda yang ada di sekelilingnya seperti melempar batu membawa golok dan arit. Itulah rangkaian bahasa tubuh mereka dalam meluapkan amarah. Kemudian si orang kaya meluapkan kemarahannya dengan sedikit tegas, menunjuk orang si fulan dan si fulan atau pun dengan proses hukum. Inilah bahasa-bahasa tubuh yang dapat direkam dan disaksikan dimana pun kita berada, kita pun dapat mengkomunikasikan hal tersebut melalui sebuah bahasa non verbal kepada audien untuk mengartikannya keberbagai tafsiran. Sejatinnya bahasa tubuh yang dikatakan sebagai bahasa non verbal akan memiliki multi tafsir sesuai dengan reka adegan yang dilihat oleh audien maka dari itu bahasa verbal atau kata-kata yang diucapkan pun harus sama dengan ekspresi yang digambarkan oleh bahasa nonverbal.(Irma/Rafi/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.