Timses Wahidin-Andika Melarang Bedah Buku “Rano Karno: Si Doel”

Selasa 17/1/2017, saya datang ke Bawaslu untuk klarifikasi dugaan kampanye terselubung saat bedah buku di Carrefour, Minggu 15/1/2017. Tim kuasa hukum Andika memasukkan laporan Sabtu 14/1/2017. Bahkan dengan permohonan kepada Bawaslu, agar bedah buku di Carrefour keesokan harinya (Minggu) dibatalkan. Hmmm…

Pada hari Minggu (15/1), saya ditunjukkan screenshot WA oleh panitia . Itu WA dari komisioner Panwaslu Serang. Isinya, jika ada kampanye di bedah buku “Rano Karno : Si Doel”, maka polisi akan membubarkan acara.

Saya check backdrop, X-banner, alhamdulillah, tidak ada teks ajakan memilih Rano dan Embay di Pilkada Banten 15 Februari nanti. Teksnya hanya kegiatan saja dan logo sponsor Gramedia-Carrefour. Alat peraga kampanye seperti kalender, kaos atau poster yang bernada ajakan mencoblos Rano – Embay tidak ada. Ini bukan kampanye Rano – Embay. Ini bedah buku. Ini komersil, jualan buku. Dan saya merasa senang dan nyaman, karena ada 4 orang dari Panwaslu datang mengawasi.

Ketika saya dimintai keterangan oleh Bawaslu itu, saya kaget. Kubu Andika menuduh saya sebagai Ketua Dewan Perpustakaan Banten sudah memakai dana APBD untuk menyelenggarakan bedah buku autobiography “Rano Karno : Si Doel”‘. Buku autobiography Rano ini diterbitkan dan dijual bebas Gramedia. Aneh bin konyol. Saya ingin tertawa terbahak-bahak, tapi untung bisa saya tahan, karena ini di kantor Bawaslu.

Saya bukan penyelenggara acara. Saya diundang sebagai pembicara. Di saat memaparkan isi buku, saya dan 2 pembicara lain hanya mengungkapkan perasaan kekaguman terhadap perjalanan hidup Rano Karno dari masa kecil hingga jadi aktor terkenal. Kemudian puncaknya adalah kami setuju dengan quote Rano, “Tidak ada yang sia-sia dari membaca buku.” Jadi tidak ada pemaparan visi-misi atau ajakan memilih Rano-Embay.

Jadi ini ketakutan yang berlebihan dari kubu Andika. Mereka tidak pernah move on. Mereka tidak pernah sadar, bahwa masyarakat Banten sudah muak dengan cara-cara lama, yaitu “politik uang”.

Jadi, melarang bedah buku sama saja dengan memasung kebebasan berpendapat seperti dimanahi UU (nomor dan tahunnya lupa). Jika ada tuduhan, bahwa ini terkait dengan moment pilkadut Banten, ah, jangan baper, kawan. Justru kita harus bangga pada Komunitas Buku Si Doel sebagai penyelenggara acara. Mereka tidak bikin onar dengan membuat negative campaign atau black campaign.

Saran saya kepada timses Andika, tulis buku sejarah hidup Andika dari kecil hingga sekarang. Ceritakan kerja keras dan perjuangan Andika bisa memiliki kekayaan Rp 20 milyar. Ceritakan juga bagaimana perasaanya ketika ibunya (Atut) dan pamannya (Wawan) masuk penjara gara-gara KKN. Kisahkan juga, bagaimana Andika bisa jadi Ketua Tagana dan Karang Taruna serta bisa mendapatkan dana hibah. Rano saja blak-blakan menuliskannya. Siapa tahu kisah hidup Andika bisa menginspirasi pembaca. Jadi, bedah buku dilawannta dengan bedah buku,.bukan melarangnya.

Jika ini dilakukan bersama-sama, berati kita sedang memberikan pendidikan politik kepada warga Banten, bahwa literasi itu penting. Menulis dan membaca itu adalah menjalankan perintah Allah SWT.

Nah, kalian berani melarang perintah Allah SWT? Kata para ulama juga, “Setiap orang yang melanggar perintah Allah SWT, maka hukumannya adalah api neraka!”

Mau masuk neraka? Jangankan neraka, masuk sorga saja pada nggak mau. Soalnya harus.mati duluan. Anda mau mati duluan sekarang?

Terima kasih sudah membaca kronologis saya dan Bawaslu ini. Tetap semangat mencintai Banten.

Takbir!
Allahu Akbar.
Gol A Gong

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.