Tuan Gendrik: Krisis Manusia dan Kemanusiaan

Oleh Ardian Je

Salah satu cara untuk membuat sebuah cerita fiksi (cerpen ataupun novel) menjadi menarik adalah dengan menghadirkan konflik di dalamnya. Dan konflik ini bisa dibawa oleh tokoh dalam cerita.

Dua Direktur

Buku kumpulan cerpen Tuan Gendrik (yang diterbitkan Indonesia Tera pada 2003. Cetakan pertama oleh Puspa Swara pada 1993) karya Pamusuk Eneste ini sangatlah menarik. Ada 10 cerita pendek. Tujuh cerpen dimuat Kompas, dua cerpen dimuat Suara Karya dan satu cerpen dimuat Minggu Pagi. Buku ini dibubuhi kata penutup dari Maman S. Mahayana, yang juga tulisannya dimuat Kompas.

Mengapa menarik? Setidaknya ada dua hal yang menjadi alasan. Pertama, Pamusuk menggunakan nama tokoh sebagai judul cerpennya, yang pada kali ini menghadirkan 10 cerpen yang ditulisnya pada 1985-1988. Bahkan, nama tokoh itu dijadikan judul besar dalam kumpulan ini. Nama yang digunakannya pun serasa aneh, asing, sekaligus menawan dan mencuri perhatian.

Kedua, tokoh-tokoh dalam setiap cerpen membawa ideologi sekaligus kritik tersendiri pada kehidupan sosial-budaya, yang jika dikerucutkan lagi akan sampai pada kritik manusia dan kemanusiaan.

Pada cerpen Barero, ada seorang direktur utama sebuah perusahaan yang sangat baik dan dermawan. Ia bernama Barero. Alih-alih sedang mengambil cuti untuk menenangkan pikirannya yang tengah kalut, ia mendapat sebuah telepon dari seorang yang tak dikenal, orang asing, yang mengancam keselamatan istrinya. Segera saja ia kalang kabut, bingung harus melakukan apa dan bagaimana. Ia orang baik, tapi toh kenapa orang baik menjadi incaran orang-orang jahat? Ia tak habis pikir! Orang yang biasa memiliki kekuasaan penuh di perusahannya begitu mudah dikuasai oleh orang yang sama sekali tidak dikenal.

Tuan Gendrik (dalam cerpen Tuan Gendrik) tak bisa melakukan apa pun tanpa sekretarisnya yang tak masuk kerja, bahkan sekadar untuk membuat minuman untuk dirinya. Meski ia seorang petinggi di perusahaann yang ia kelola, ia tak tahu di mana bisa mendapatkan gelas, sendok, air.

 

Konflik Keluarga

Dalam cerpen lain, cerpen Bugatti, muncul tokoh Bugatti, seorang perempuan yang tak betah dengan kemiskinan. Ia memiliki suami yang suka ikut undian berhadiah, namun sayang tak pernah menang. Bugatti dan suaminya selalu cek-cok. Alasan lain yang ditampilkan penulis, cek-cok itu muncul adalah karena mereka belum mempunyai anak meski sudah menjalani bahtera rumah tangga selama lima tahun.

Cerita tentang permasalahan momongan (baca: anak) juga hadir dalam cerpen Makeba. Makeba tengah menunggu suaminya pulang bekerja. Semalam, di ranjang, sebelum berangkat tidur, ia dan suaminya juga cek-cok masalah anak. Si suami sakit hati, nampaknya, tapi Makeba tak sadar betul bahwa itu terjadi. Ia pun menunggu suaminya pulang, hingga dingin masakannya di meja makan, hingga pembawa acara televisi mengatakan sampai jumpa lagi. Tapi suaminya tak kunjung datang.

Kisah rumah tangga juga muncul pada cerpen Ponderos. Ponderos, istri Marsose, tak bisa hidup di mana pun. Sebentar-sebentar ingin pindah tempat tinggal, pindah rumah. Ia contoh orang yang tak bisa bersyukur dan tak mau beradaptasi dengan lingkungan, dan selalu keinginannya ingin dipenuhi oleh suaminya.

Dalam kumpulan ini, Pamusuk menghadirkan tokoh-tokoh yang mengalami krisis atau bahkan hilang kemanusiaannya. Fungsi seseorang dalam masyarakat atau lingkungan tertentu menjadi tumpul.

 

Krisis Kemanusiaan

Cerpen satir yang penuh akan kritik adalah Benino, di mana tokoh Benino tanpa sebab yang jelas dikejar-kejar awak media karena tiba-tiba dianggap pahlawan. Padahal Benino tak tahu apa yang ia lakukan. “Masa orang tak berbuat apa-apa bisa diangkat jadi pahlawan! Piye to, Mas?” (halaman 56). Cerpen ini ditulis tahun 1986.

Secara garis besar, dalam kumplan ini, para tokoh (baca: manusia) mengalami krisis kemanusiaannya, atau bahkan hilang penuh seluruh. Manusia yang semestinya bersosialisai, mengagungkan pasangan hidup, mensyukuri jabatan dan kekuasaan… itu semua hilang dari peredaran.

 

Ardian Je, relawan Rumah Dunia; pendidik di MTs Al-Khairiyah Karangtengah Cilegon; ketua Forum Lingkar Pena (FLP) Serang; penulis buku puisi Bojonegara (2017). Tinggal di Kubang Gede, Mangkunegara, Bojonegara, Kabupaten Serang, Banten.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.