Si Janggut Mengencingi Herucakra: Romantisme, Mitos, Kritik Sosial, Tragedi

Oleh Ardian Je

Buku kumpulan cerita Si Janggut Mengencingi Herucakra (Marjin Kiri, 2015) karya A.S. Laksana, bagi saya, merupakan kumpulan cerita yang kompleks. Mengapa demikian? Karena buku ini tidak hanya membawakan satu tema. Ada beberapa tema yang ditulis dalam 12 cerita dalam buku setebal 133 halaman ini.

Buku ini dibuka dengan cerita Dijual: Rumah Dua Lantai Beserta Seluruh Kenangan di Dalamnya. Dalam cerita pembuka ini, benda atau hal yang dijual tidaklah hanya rumah dua lantai semata, tetapi juga seluruh kenangan yang tercipta dari sepasang suami-istri. Mereka, sepasang-suami itu, sepakat untuk bercerai, karena mereka tidak pernah akur, selalu ribut dalam kondisi apa pun. Saat salah satu pihak ingin mencairkan suasana, pihak lainnya tetap keukeuh berkata dan bersikap keras, dan itu membuat keduanya kembali mengencangkan urat leher dan emosi.
Cerita yang berkaitan dengan rumah tangga—perceraian, terutama—juga muncul dalam cerita berjudul Orang Ketiga di Malam Hari. Siapakah gerangan orang ketiga itu? Orang ketiga itu ialah teman si tokoh suami yang sudah mati. Namun, meski sudah mati, istrinya selalu saja memimpikan orang ketiga itu. Karena istrinya dianggap tidak mencintainya di malam hari, lantaran menyebut-nyebut nama orang ketiga itu, si suami mengajukan perceraian di pengadilan.

Tema kedua cerita ini agak mirip karena menggunakan setting rumah tangga dan pasangan suami-istri. Namun, secara alur dan teknik bercerita, kedua cerpen ini memiliki kekuatan masing-masing. Dan ini yang memukau dari A.S. Laksana. Dengan satu tema yang boleh dikatakan sama, ia mampu membuat dua cerita dengan apik.
Selain tema—jika itu bisa disebut sebagai tema—rumah tangga, dalam buku ini A.S. Laksana juga menyuguhkan tema lain, yakni kritik sosial. Cerita Si Janggut Mengencingi Herucakra—yang menjadi judul besar dalam kumpulan ini—menghadirkan cerita tentang nasib buruh pabrik. Si Janggut merupakan tokoh revolusioner yang berusaha memperjuangkan nasib para buruh, teman-temannya. Tapi sayang, seperti kebanyakan nasib orang kritis, suaranya tidak didengar para buruh.

Ia menjadi ancaman bagi pihak perusahaan, keberadaan beserta segala tindak-tanduknya, tidak bisa dibiarkan. Berkali-kali ia diancam dikeluarkan dari perusahaan itu. Namun, para buruh hanya bisa pasrah dengan segala kondisi yang diterima.

“Buruh bukan binatang ternak, bukan kawanan budak, bukan keledai pengangkut beban. Kita tahu bahwa setiap orang memiliki hak yang sama untuk hidup sejahtera.” (halaman 16). Dari dialog yang dilontarkan si Janggut ini, terlihat bagaimana nasib para buruh.

Tema kritik sosial juga muncul dalam Cerita Ababil. Namun dalam cerita ini dihiasi adegan-adegan spiritual-magis. Tokoh Maliki ingin menggulingkan kepala negara. Ia mengasuh 33 bayi, lalu mendidiknya agar bisa membaca mantra. Setelah 33 anak didiknya menginjak usia remaja 20-an tahun, mereka menjadi sakti. Ludah mereka bisa membakar benda-benda, termasuk gedung istana, seperti burung ababil yang membawa api neraka di paruhnya. Namun usaha mereka gagal. Kepala negara tetap selamat.

Cerita berjudul Rashida Chairani juga menghadirkan kritik sosial, namun tidak terkait dengan hal-hal konstitusional atau nasib banyak orang, melainkan pada kemalangan individu. Rashida diperkosa tiga orang teman sekolahnya, tetapi pihak sekolah tidak memberi tindakan kepada para pelaku, lantaran para pelaku itu merupakan siswa-siswa berprestasi di sekolah, dan satu di antaranya adalah anak walikota yang memberi sumbangan besar kepada sekolah. Malah, pihak sekolah melakukan ketidakadilan: mengeluarkan Rashida karena menganggap itu aib buruk.
Rashida tak mendapat pembelaan. Ia tidak mendapatkan haknya. Ini adalah potret sebuah instansi atau komunitas memperlakukan seorang individu yang teraniaya. Seharusnya pihak sekolah menindak tegas para pelaku. Karena kepentingan, semuanya ditepis, dilempar jauh-jauh.

Hal lain yang menarik dari buku ini ialah A.S. Laksana menghadirkan tokoh yang sama dalam cerita yang berbeda. Robi dan Ratri. Dua tokoh ini hidup dalam cerita yang berbeda. Pertama, mereka muncul dalam cerita Tentang Maulana dan Upaya Memperindah Purnama dan cerita Perpisahan Baik-baik. Konfliknya sama: Robi dan Ratri ingin menikah, tapi tidak bisa karena sebuah alasan. Dalam Tentang Maulana dan Upaya Memperindah Purnama, Ratri tak bisa menerima lamaran Robi karena rahimnya diangkat, dan otomatis tidak bisa memberikan keturunan.
Dalam Perpisahan Baik-baik, Ratri juga menolak lamaran Robi karena tahu, Mama Robi tidak setuju jika mereka menikah, karena Ratri tidak akan mempunyai anak. Mama Robi tidak ingin garis keturunan mereka terhenti di situ. Jadi Ratri memilih untuk berpisah baik-baik. Selain itu, ada juga tokoh Alit dan Nita yang muncul dalam dua cerita yang berbeda, yakni dalam Lelaki Merah di Kaca Jendela dan Alit dan Nita dan Kencan yang Mematikan. Bahkan, tokoh Robi lagi-lagi muncul dalam Lelaki Merah di Kaca Jendela.

Tidak hanya tema cinta yang disodorkan dalam dua cerita itu. Ada sesuatu yang diselundupkan A.S. Laksana, yakni sebuah tragedi. Nita merasa merindukan seseorang, atau mungkin jatuh cinta—ia sendiri bingung—kepada sesosok Lelaki Merah yang sering muncul di kaca jendela tidurnya. Di jidat lelaki itu, mengalir darah. Nasib buruk menimpa Lelaki Merah itu. Ia meninggal bersama temannya akibat diberondong oleh kawanan tentara yang menjadi beringas menjelang petang (halaman 109).

***

Ada catatan bagi penulis dan atau editor: terdapat salah ketik pada halaman 16. Di sana tertulis dialog: “Aku menyampaikan apa yang perlu disampaikan,” kata Si Janggut. Frasa Si Janggut ditulis dengan huruf “S” kapital, padahal frasa itu, baik sebelum dan sesudah dialog tersebut, ditulis dengan huruf “s” kecil, si Janggut.
Satu lagi, pada halaman 99. Di sana tertulis “Esok harinya aku datang ke rumah sakit lagi, membawa roti dan buat-buahan…” Mungkin maksudnya ialah buah-buahan.
Terlepas dari itu, buku ini menyuguhkan cerita dengan gaya tutur yang menawan, tidak ruwet, dan sebagai pembaca saya bisa menikmatinya.

 

Bojonegara, Sabtu, 17 Juni 2017
Ardian Je, relawan Rumah Dunia; pendidik di MTs-MA Al-Khairiyah Karangtengah Cilegon; ketua Forum Lingkar Pena (FLP) Serang. Buku puisi terkininya berjudul Bojonegara (2017). Tinggal di Kubang Gede, Mangkunegara, Bojonegara, Serang, Banten.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.