Orasi Literasi

Oleh Jack Alawi

“I am speaking with language of my heart,” begitu kata Bung Karno. Pantas dalam pidato-pidatonya, orang-orang berdecak kagum dengannya. Apa yang dia sampaikan dalam pidato-pidatonya, bukan hanya menyampaikan tugasnya sebagai pemimpin, tapi apa yang disampaikannya adalah isi hatinya. Saya kira kemampuan retorika Bung Karno inilah yang paling membuatnya dicintai banyak orang.

Kemampuan bicara di depan banyak orang atau publik bukan hal yang mudah, juga bukan hal yang terlalu sulit jika mau dilatih. Tapi bicara di depan umum dan dapat mengambil simpati publik, saya kira sulit dilakukan.

Untuk dapat berbicara di depan banyak orang, setiap Jumat malam Rumah Dunia mengadakan program Orasi Literasi, pesertanya para relawan Rumah Dunia. Gol A Gong yang menjadi pemimpin acara. Orasi Literasi sudah berlangsung sejak tahun 2010, sebelumnya sudah ada program serupa namun dengan nama program yang berbeda. Setiap relawan berorasi di hadapan para relawan dengan tema dadakan yang diberikan oleh Mas Gong, begitu panggilan kami para relawan kepada Gol A Gong. Mas Gong mengatakan kepada para relawan agar berpidato dengan menganggap diri sendiri sebagai pemimpin, dan orang yang mendengarkan adalah rakyatnya.

Tema yang diberikan oleh Mas Gong adalah sesuatu yang dekat dengan relawan yang akan orasi. Penerapan tema yang dekat dengan individi relawan menjadi semacam amunisi materi yang seharusnya sudah lekat dengan hati dan pikiran relawan. Jika kita bicara tentang apa yang erat dengan kita, biasanya apa yang keluar dari mulut kita berasal dari hati kita yang sesungguhnya.

Mulai dari Nol

Saya dan sebagian besar relawan Rumah Dunia ikut Orasi Literasi adalah pengalaman pertama bicara di depan orang banyak atau publik tanpa persiapan materi yang akan disampaikan. Saya kira metode belajar seperti ini bukan hanya melatih diri untuk bisa bicara di depan banyak orang, tapi juga metode yang bagus untuk menstimulus kami agar terus lebih banyak menambah pengetahuan.

Dulu saat saya sekolah di madrasah diniyah, setiap penutupan akhir semester atau milad madrasah diniyah, selalu mengikuti lomba pidato. Pernah juga mengikuti lomba serupa saat perayaan Isra Mi’raj Nabi Muhammad di kampung saya. Pengalaman pertama kali bicara di atas panggung saat itu adalah pengalaman luar biasa dan tidak mudah dilupakan.

Jauh-jauh hari sebelum lomba pidato berlangsung, saya mengonsep isi pidato yang akan saya sampaikan di depan publik nanti. Setelah konsep selesai, saya menuliskan isi pidatonya, dari pembukaan, isi, sampai penutupnya. Naskah yang sudah rampung saya tulis itu saya hafal setiap hari. Sampai saat acara tiba, dan giliran saya naik ke atas panggung, semuanya berjalan lancar karena saya sudah menghafal isi pidato saya selama berminggu-minggu.

Pengalaman saya mengikuti lomba pidato di madrasah diniyah dan kampung tentu menjadi pengalaman yang bagus dalam hal pengalaman mental berbicara di depan orang banyak. Ternyata pengalaman itu belum cukup bagi saya untuk dapat lancar bicara pada Orasi Literasi di Rumah Dunia.

Walaupun saat orasi literasi tidak keringat dingin, tapi saya kekurangan materi tentang sesuatu yang sedang saya sampaikan di panggung Orasi Literasi ini. Karena kekurangan materi itu, bicara pun jadi tersendat-sendat.

Pengalaman pidato di madrasah diniyah, di kampung, dan di Orasi Literasi membuat saya semakin percaya bahwa orang yang dapat bicara lancar dan berisi itu memiliki pengetahuan yang luas. Perkataan Mas Gong benar, “Orang yang bicara di atas panggung atau di depan orang banyak adalah bukan orang biasa”.

Dari Bicara ke Tulisan

Saya kagum pada Mas Gong dengan metode yang digunakan dalam program Orasi Literasi. Selain karena melatih para relawan Rumah Dunia agar dapat bicara di atas panggung, juga karena Mas Gong memberikan tugas menulis esai tentang tema yang dibicarakan di panggung Orasi Literasi. Mas Gong tidak hanya meminta relawan menulis, tapi juga mengarahkan dan memberikan masukan untuk calon tulisan esai setiap relawan.

Minggu berikutnya esai yang ditulis oleh relawan Rumah Dunia dikumpulkan, dibaca dan diberi catatan koreksi oleh Mas Gong. Esai relawan yang sudah direvisi dikirimkan oleh masing-masing relawan ke media massa, cetak maupun online. Sebagian esai-esai itu berhasil dimuat di media massa. Salah satu esai Ahmad Wayang dimuat di Koran Tempo dengan judul “Sarung”.

Tantangan bagi kami selain mampu bicara di depan banyak orang dan menulis esai, juga dapatkah kami (kita) berbicara dan menulis dari hati dan mampu menarik simpati publik? (*)

 

Penulis adalah Relawan Rumah Dunia dan mahasiswa UIN SMH Banten

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.