Minggu yang Waw Bersama Rayni N. Massardi

Siang ini matahari sedang mencekam. Memancarkan terik yang begitu menyengat. Menusuk siapa saja yang berjalan di kolongnya. Padahal 149.6 juta km sangat jauh jaraknya dengan bumi yang kupijak. Akan tetapi, rasanya sangat dekat dengan ubun-ubun ini. Aku tak pernah urung diri untuk tidak pergi, karena Minggu selalu menjadi hari favorit yang kutunggu-tunggu.

Hari ini, Minggu 15 Oktober 2017, menjadi minggu yang paling berkesan. Bagaimana tidak, kabar yang kudengar ada 3 penulis hebat di Rumah Dunia dalam acara bedah bukunya. Pukul 12.00 WIB. Aku semakin mantap melangkah walaupun matahari masih menantang di atas kepala.

Tiba di tempat yang selalu aku kunjungi setiap minggu. Terlihat banyak orang telah memenuhi sudut Rumah Dunia. Di bawah payung-payung rainbow, di depan perpustakaan, di lapangan depan auditorium, dan di semua halaman yang ‘nyeni’ itu. Aku pun duduk di tempat kesukaanku, di dekat pohon bambu kuning.

Ketika acara bedah buku hendak dimulai, aku pun memasuki ruangan Auditorium Rumah Dunia itu. Terlihat salah satu dari ketiga penulis telah duduk di kursi barisan paling depan. Mataku langsung terpaku padanya. Seorang perempuan tidak muda, tidak juga tua. Berkacamata,  berambut sedikit curly dan berpenampilan gaul. Rayni N. Massardi namanya. Seorang penulis buku berjudul “Daun Itu Mati”. Senang sangat rasanya bisa bertemu langsung dengan penulis hebat berkelahiran Brussels, Belgia itu.

Aku selalu menikmati setiap penampilan yang disuguhkan di depan. Mulai dari pembacaan puisi, musikalisasi puisi, hingga acara puncak bedah tiga buku. Banyak ilmu yang sangat bermanfaat yang aku dapat.  Menjadikan aku semakin semangat dalam belajar menulis.

Acara pun sudah berada di ujung waktu. Aku segera membeli sebuah buku  dari salah satu penulis hebat itu. “Daun Itu Mati” judulnya. Terbelalak mataku melihat angka 1957 di profil penulis. Ya, benar, perempuan lulusan Universitas Paris III,  Sorbonne Nouvelle,  Departemen d’Etude et de Recherches Cinematographiques, Paris. Prancis itu rupanya kelahiran 29 Mei 1957. Siapa sangka, wajah dan gayanya yang masih terlihat muda itu telah berusia 60. Luar biasa.

Sebelum meninggalkan Auditorium, aku pun langsung meminta tanda tangan di buku Graphies Short Stories tersebut kepada penulisnya. Tak lupa juga meminta berfoto bersama. (Neng/Rhu)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.