Gempa Literasi, Upaya Membangun Kemajuan

Oleh Ardian Je

Saya membaca Gempa Literasi (Kepustakaan Populer Gramedia, 2012) karya esais Agus M. Irkham dan novelis sekaligus pendiri Rumah Dunia (RD) yang juga menjabat sebagai Ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat Indonesia, yakni Gol A Gong. Saya menikmati buku ini. Bagi saya buku ini memberi saya semangat yang tinggi untuk terus mencari dan memperjuangkan kebenaran dan kebahagiaan melalui ilmu pengetahuan. Mengapa ilmu pengetahuan? Karena dalam buku setebal 525 halaman yang berisi 99 esai ini secara keseluruhan membahas literasi (buku). Dan kita pun sepakat bahwa ilmu pengetahuan bertempat tinggal di “rumah” yang bernama buku—meski ilmu pengetahuan memiliki tempat tinggal yang lain atau “rumah” yang lain selain buku, seperti pengalaman empirik dan lainnya.

Ketika saya membaca buku ini, saya terkenang buku yang lain, yakni Bukuku Kakiku. Buku ini dan Bukuku Kakiku memuat tulisan-tulisan (esai) yang menerangkan betapa terangnya buku dalam kehidupan manusia di dunia. Dalam Bukuku Kakiku, banyak ditemukan kisah-kisah inspiratif para sastrawan, budayawan, seniman, profesor (akademisi), dan para penyandang gelar lainnya, tentang buku-buku yang mengantarkan mereka pada perjalanan dan pengalaman yang tak terlupakan. Sebuah kenikmatan yang takkan dapat diungkakpan dengan kata-kata biasa.
Buku, nampaknya, membawa kemajuan yang sangat besar bagi mereka, para penulis dalam buku ini dan Bukuku Kakiku serta jutaan bahkan miliaran orang di dunia.

Buku dan Budaya Baca

Jika berbicara mengenai hal-ihwal tentang buku, maka akan erat kaitannya dengan budaya (mem)baca (buku). Budaya membaca buku di daerah dan negara kita masih rendah. Berapa banyak buku yang kita—agar tak secara langsung meneyebut Anda—baca dalam sehari, seminggu, sebulan, dan seterusnya? Atau berapa lama waktu yang kita butuhkan untuk mendaras sebuah buku—yang tebal dan tipis menurut ukuran kita? Jikapun ada seseorang yang dapat membaca tiga buku dalam sehari, saya kira, itu bukanlah kemustahilan. Tetapi, lebih banyak orang yang sukar melakukannya atau malah sangat jarang membaca buku!

Sekali lagi, saya ucapkan bahwa budaya membaca masyarakat kita masih rendah. Buku seolah-olah barang yang mahal dan terletak jauh ribuan kilometer dari kehidupan. Dilematis. Di tengah-tengah jumlah masyarakat Indonesia yang sangat banyak ini (sekitar 225 juta penduduk!), buku merupakan hal yang ganjl atau tak digemari—berbeda dengan sinetron yang sangat digemari remaja dan ibu rumah tangga. Mungkin para pecinta buku di kota-kota besar seperti Jakarta, Yogyakarta, Semarang, Bandung, dan lainnya memiliki jumlah yang cukup banyak. Tetapi bagaimana dengan orang-orang kampung atau pelosok? Jauh. Sangat jauh.

Sebagai contoh, orang-orang kampung saya di Bluwo Indah, Sukalaksana, Sukakarya, Bekasi, baik yang berpendidikan dalam arti bersekolah maupun yang tidak, masih belum mengenal buku, meski telah mengenal huruf dan dapat mengeja kata: m-a-k-a-n menjadi “makan”. Hal yang seperti ini, menurut Ignas Kleden, disebut sebagai melek huruf teknis: hanya dapat mengeja huruf menjadi kata! Namun mereka masih buta huruf dalam hal fungsional dan budaya! Selain itu, di desa saya, dan mungkin juga kasus ini terjadi di desa-desa lainnya, tak ada perpustakaan. Perpustakaan hanya ada di SD-SMP-SMA, namun pertanyaan lain pun membentur: buku apa yang tersedia? Dan jawaban yang paling tepat adalah buku pelajaran, bukan buku bacaan yang—sebetulnya lebih banyak—mengandung pengetahuan. Beruntung Serang memiliki perpustakaan provinsi dan perpustakaan kota yang memiliki mobil dan perpustakaan keliling, di samping memiliki komunitas-komunitas literasi dan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) kreatif  seperti Rumah Dunia, Kubah Budaya, TBM Permadani, dan lainnya.

Kemajuan

Mungkin kita masih ingat pada peristiwa pengeboman Hiroshima dan Nagasaki di Jepang oleh sekutu. Kedua tempat itu benar-benar porak-poranda. Namun, para negarawan Jepang tak ambil diam dan menyesali kehancuran yang menimpa negaranya. Mereka segera mengumpulkan para guru dan intelektual, kemudian menerjemahkan banyak buku yang dapat membangun kembali negaranya, seperti buku-buku tata negara, sastra, ekonomi, politik, sosial, budaya, dan seterusnya. Dan hasilnya, kita bisa melihat kondisi Jepang saat ini: ia menjadi salah satu pusat kemajuan dan peradaban dunia. Jepang mampu bersaing dengan Amerika Serikat, Jerman, Perancis, Rusia, dan negara maju lainnya.

Dan itu terjadi karena mereka, Jepang, melakukan perubahan dan pembangunan melalui buku dan mengagungkan ilmu pengetahuan. Dan Agus M. Irkham beserta Gol A Gong dalam Gempa Literasi—juga para penulis dan mereka yang peduli terhadap Indonesia—sedang mengupayakan kemajuan sesuai dengan kemampuan mereka.
Runtuhkan kebodohan dengan Gempa Literasi, dan bangunlah kemajuan!

*Ardian Je, mahasiswa Tadris Bahasa Inggri IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten; aktif di Komunitas Cakrawala.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.