Kaibon, Tanah Syuhada Cinta

Cerpen Oleh Erni Kurniati

Awan hitam mulai menyelimuti warna orange kemerahan di langit. Tetesan-tetesan airpun mulai membasahi bumi. Kini aku mulai berlari mencari tempat berteduh. Saat berlari mataku tidaklah fokus melihat ke depan, tanganku menutupi mata agar air hujan tidak menyakiti mataku. Tak disengaja kakiku menginjak lumut licin yang menetap di lantai batu yang tak terawat. Tubuhku mulai melayang, hingga kepalaku bersentuhan dengan tembok yang persis di depanku. Lalu, tubuhku terbanting hampir menyentuh lantai, yang menjadi saksi pernah berdirinya mushola di istana Kaibon ini. Aku pikir, aku sedang pingsan, kepalaku tidak bersandar di lantai, tetapi di tangan seseorang. Sakit kepalaku menyadarkan aku bahwa aku masih sadar. Tangannya kekar sekali, menyentuh lenganku yang kurus. Ketika mataku terbuka, aku melihat dua mata bercahaya kebiru-biruan, hidungnya menjulang ke atas, dan mulut tipisnya menganga seperti kehabisan napas. Pria itu mencoba bicara padaku, namun aku tak juga berkedip menatap matanya.
“Hei, apa kau baik-baik saja?” Suaranya akhirnya menyadarkan aku dari lamunan.
“Iya, iya, aku baik-baik aja” aku menjawabnya dengan bibir bergetar sambil melepaskan diri dari dekapannya.
Dia menuntunku ke dalam tempat yang lebih aman, ke tempat dinding paling kokoh dan memiliki cekungan ke dalam dengan tinggi kurang dari dua meter. Aku rasa ini adalah tempat di mana biasanya seseorang memimpin sholat.
“Hai, namaku Jonathan, siapa nama kamu?” logatnya masih kental dengan aksen bule yang berusaha bicara bahasa Indonesia.
“Aku Zahira, terimakasih sudah menolong saya” kepalaku menegok ke atas untuk melihat wajahnya dan kamipun saling bertatapan.
Aku diam tanpa kata setelah itu, diapun mengunci mulutnya dan hanya memandangiku, hingga hujanpun reda.
Tiba-tiba datang seorang pria tinggi besar dan berotot tapi kulit sawo matang layaknya orang Indonesia menghampiri kami.
“Jonathan come on, we have to go!” dia berteriak dengan logat jawa tengah yang masih kental.
Jonathan pun pergi bersama temannya tanpa berkata apa pun, namun dari kejauhan dia menoleh ke belakang dan sekali lagi memandangiku serta melambaikan tangan.
“Sampai jumpa Zahira…” terdengar samar-samar keluar dari mulut Jonathan.
***

“Oke, semuanya kita sudahi berkuliahan pada siang ini, semoga kita bisa bertemu kembali minggu depan” Pak Budi menutup kelas filsafat umumnya.
“Zahira, kepala lo kenapa?” tangan Naila menepuk pundakku.
“Gpp kok, Cuma kebentur tembok doang!” jawabku dengan ketus.
“Kok bisa sih? Dimana?” Naila terlihat antuasias dan ingin tahu.
“Di kamar mandi kemaren sore” aku terpaksa berbohong, karena aku tidak tahu kejadian kemaren apakah benar-benar nyata atau khayalan saja.
“Oh, ya elah lo sih kebanyakan nyanyi bukan sholawatan!”
“Ya udah yuk, ikut gue ke aula lantai 3 rektorat” Naila menarik tanganku.
“Ada apa?”
“Itu lho ada stadium general, pematerinya dari luar negeri lho Za!” tangannya menarikku untuk ikut di belakangnya.
“Aduh, males banget sih Nai kepala gue sakit tahu, lo aja sih yang ke sana yah gue mau pulang!” aku memohon agar dia tidak mengajakku ikut, namun dia terus memaksaku dan terpaksa aku ikut.
***

Sesampainya di aula, ternyata acaranya sudah hampir selesai. Para pesertapun banyak yang berdiri dan berdesakan, mereka sangat antusias ketika pemateri asal Belanda itu hadir mengisi kuliah umum di IAIN SMH Banten. Tubuhku terasa panas dan bergetar, mataku tak berkedip beberapa detik. Rasanya tubuhku terserang setruk mendadak tak bisa digerakkan. Mataku terpaku di depan meja pemateri, bukan kagum dengan pemateri orang luar negeri, tetapi aku tahu siapa pemilik mata itu.
Setelah acara selesai, banyak sekali peserta yang mengantri meminta poto dengan Jonathan. Aku dan Naila hanya duduk di belakang dan menunggu giliran sepi. Meski begitu aku diam, namun Jonathan mengenalku, dia selalu melihat ke arah tempat aku duduk.

“Za, ke depan yuk kita poto uda mulai sepi tuh”
“Gak ah! Lo aja ya… gue malu” tapi Naila mendorongku ke depan tepat ke arah Jonathan berdiri.
Tubuhku sangat berat untuk digerakkan, aku mencoba untuk bicara tapi mulutku terkunci rapat dengan sendirinya. Jonathan pun senada denganku, dia membisu.
“Sir, may I take a picture with you?” Naila mencoba berbicara dengan Jonathan.
“Ya, tentu!” pandangan matanya tak teralihkan dari mataku.
Aku mencoba menenangkan diri dan bersikap sewajarnya, seolah-olah kejadian minggu lalu tak pernah terjadi. Aku berdiri, bersandar pada tiang yang berdiri tegak tepat di samping meja depan. Aku hanya bisa melangkah mundur memperhatikan Jonathan dari belakang. Aku berharap ini adalah perasaan kagum pada umumnya.
Aku melihat punggungnya menjauh dari pandanganku, aku tertunduk sedih membiarkannya.
“Zahira, aku berharap bisa mengenalmu lebih jauh, boleh aku meminta nama akun facebookmu?” tiba-tiba Jonathan sudah di depanku dan menyodorkan hpnya.
“Iya, ini…” aku menulis dengan jari yang bergetar.
Aku berharap kejadian itu tak terlihat orang-orang. Naila sedang sibuk berpose di depan spanduk bersama mahasiswa lainnya. Singkat Jonathan langsung meninggalkan ruangan. Lagi-lagi aku sendiri hanya menatapnya dari belakang dan hilang bersama kerumunan mahasiswa.
***

Setelah aku mengkonfirmasi akun pertemanan di facebook, dia mengirimiku emailnya. Kami saling bertukar pesan dan kabar. Dia juga memberikan nomor ponselnya agar mempermudah komunikasi. Lambat laut pertemanan kami semakin dekat, kami saling menelepon selayaknya sepasang kekasih yang ingin tahu kabar masing-masing. Dalam kebimbingan di atas awan, aku menyadari ketidak jelasan perasaanku. Tanpa status tanpa penjelasan hubunganku semakin dekat.
“Ka Nathan, kenapa kaka melakukan semua ini?” aku mencoba bertanya dengan serius sambil mendengar suara yang jauh di tempatnya.
“Iya adik Zira” sebutan yang membuat aku selalu terbang melayang karena malu dan merasa bahagia, karena tidak pernah ada seorang laki-laki pun pernah dengan perhatian lebih seperti ini.
“Dek, saya merasakan sesuatu yang lebih kepadamu”.
“Maksudnya apa ka?” aku berlaga polos, namun hatiku senang meniyakan maksudnya.
“Dek, saya mulai jatuh hati padamu saat kita pertama bertemu, wajahmu tidak memalingkan mataku dari apa pun” kata-katanya seperti petir yang menyambar hatiku hingga berdetak kencang.
“Apa kamu tinggal bersamaku, kita akan saling mengenal satu sama lainnya” terdengar memohon.
“Bagaimana kita bersama ka?”
“Usia kita sangat berbeda jauh hampir 12 tahun, tapi jika kamu mau itu tidak masalah bagiku”
“Bagaimana dengan agamamu?” aku mulai tidak mengerti apa yang aku bicarakan.
“Aku tidak akan memaksamu untuk pindah bersamaku, tapi aku tidak akan menerima agama baru dalam hidupku dek” dengan penuh keyakinan dia tegas akan keputusannya setia pada keyakinannya.
***
Hari demi hari berlalu dengan beban yang bertambah. Perjalanan semasa mengenalnya membuatku banyak berubah. Tanpa kepastian dan ketegasan aku jalani setiap detik nafas dengan menyebut namanya. Sungguh kebahagiaan memiliki bumi dan seisinya tidaklah sebanding dengan kebahagiaan akan keberadaannya di sampingku. Tapi takdir perbedaan dasar yang kami miliki telah menjadi hijab antara kebahagiaanku bersamanya. Berpisah dan merana telah menjadi takdir hingga bertahun-tahun lamanya.
***
Tiga tahun berlalu, aku masih dalam pertapaan rasa yang kumiliki. Harapan masih mengenggam erat cintaku. Tak ada kesedihan dan obat dari hati yang jauh dari cintanya. Obat yang telah ditawarkan oleh ajaran agama tidak menjadi solusi atas kesengsaraanku. Lambat laun untuk mengobati rasa rinduku, Tuhan telah menyapa takdir lain.
Assalamu’alaikum Zahira. Bagaimana kabarmu? Maafkan saya karena telah pergi tanpa salam perpisahan. Tapi saya sadar itu saya lakukan untuk melupakan kamu dan begitu juga denganmu. Kau pantas bahagia tanpa diriku. Saat ini saya di Lebanon, banyak hal yang menarik di sini, untuk karir dan penelitian. Saya menemukan kebenaran tentang Islam. Jika saya tidak terlambat, saya menawarkan obat dari kisah kita yaitu dengan menikahimu. Semoga saya tidak terlambat.
Pesan yang tidak pernah aku bayangkan mengampiri seperti tentara perang yang menungguku untuk berjuang. Tanpa berpikir panjang, sontak aku bangun dari tempat tidur dan membalas kesediaan pesan di emailnya.
***
Senin pagi waktu Lebanon, Jonathan terbang menuju bandara Soekarno-Hatta. Dengan langkah yang mantap dia bergegas menaiki Damri menuju tempat kekasihnya, Banten. Setiba dengan alamat yang dia pegang, dia melihat sekerumunan orang mengelilingi tubuhku. Bibirnya gemetar pucat. Tangannya yang lembut mencoba membangunkanku. Aku sudah tidak bernapas dan bernyawa, rohku telah keluar bersama malaikat Izrail. Rindu yang telah lama menguras tenaga dan pikiran manusia, telah membuat aku jatuh pada titik terlemahku dan kembali pada pemiliknya. (*)

*) Erni Kurniati, Guru Bahasa Inggris di Yayasan Pesantren Tahfidz Qur’an Nururrohman Sepang – Serang. Pengurus TBM Jawara, Relawan dan Asisten Peneliti di Lab. Bantenologi UIN SMH Banten. Tinggal di Kp. Katengahan Ds. Margasana Kec. Kramatwatu Kab. Serang – Banten. Email ernikurniati76@ymail.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.