Guru versus Teknologi

Oleh Ulinnuha

Maniak  Google

Tampaknya, segera tiba fase pendidikan tak lagi butuh pena dan Buku. Kedengarannya tidak terlalu janggal, kendati telah banyak ditemukan siswa hanya datang ke kelas mengisi daftar hadir, usai itu mereka “dibelajarkan” oleh teknologi internet, di bawah kendali sang primadona google. Cerita yang kini merebak dan digaungkan di antaranya tentang penggunaan media pembelajaran Facebook yang diakui mensinyalir rasa senang dan disiplin baik siswa maupun gurunya, terlebih ketika mengumpulkan tugas mereka, guru akan lebih mudah mengetahui siapa yang cepat mengumpulkan. Kreativitas murid semakin terwadahi, mereka lebih bersemangat membuat hasil belajar yang dapat dimenterengkan di sosial media seperti Facebook, lalu diberikan reward oleh guru bagi karya/tugas  siswa yang paling banyak mendapat like. Betapa mudah teknologi menyihir mental peserta didik menjadi antusias akut dalam belajar dibanding tanpa teknologi.

Di sisi lain masyarakat mengeluhkan pelaksanaan ujian nasional berbasis komputer UNBK yang semakin seksi, tapi belum bisa dilakukan di semua sekolah. Kendati minimnya fasilitas komputer di lembagnya itu,  mereka panik dan tergesa-gesa mengejar agar tak tertinggal dengan sekolah yang sanggup melancarkan UNBK. Hingga mereka membagi  ujian menjadi tiga sesi, pagi siang dan sore sebagai solusi. Belum selesai di situ, kemudian dibuat lesu kembali saat dihadapkan dengan insiden komputer dicuri menjelang pelaksanaan ujian, maka nasib UNBK menjadi kacau. Tapi sekolah yang terdapat di pulau terpencil-tidak tersentuh listrik, mereka masih bangga melaksanakan UN dengan kertas dan Pensil.

Maka timbul pertanyaan. Sejauh mana siswa memahami berita-berita di sosial media yang telanjang? Bisakah media internet menjadi satu-satunya alternatif peserta didik kita untuk mendapatkan sumber belajar? Akankah aktor pendidikan berdiam saat sistem belajar digerus canggihnya media-media online yang menyajikan penjelasan akurat dan terpercaya,  sehingga mereka sudah punya bahan  lengkap untuk bisa belajar banyak hal. Namun, Terfikirkah kehebatan teknologi akan dapat memberikan penilaian tingkah laku, moral bahkan penilaian UNBK secara sistem komputer?

Ditanggapi Hidayat, pengajar di salah satu Sekolah  Menengah Kejuruan di Serang, Banten, pada surveI 9 November 2017, yang menunjukkan bahwa dengan teknologi “google” era ini siswa diberikan contoh-contoh nyata secara cepat dengan akses internet sesuai materi pelajaran, kemampuan siswa yang terbatas dapat dimudahkan dengn teknologi “google”, demikian dapat mengembangkan proses berpikir kreatif siswa, pun kemampuan pemahaman meteri  juga akan semakin tajam. Istimewanya, kemolekan teknologi dapat memberikan efek kesigapan proses berpikir siswa  menjadi lebih dinamis, secara tidak langsung kemandirian proses belajar tersebut akan terbangun pada citra belajar siswa. Hanya saja terebut kontraversi dengan seorang guru yang memiliki keterbatasan dalam mengelola komputer atau gagap teknologi, hal ini terjadi pada guru-guru ‘lanjut usia’ yang memang terlahir sebelum memasuki generasi milenial.

Formula Behavioristik

Bertemali dengan hal itu, bias dengan teori belajar “behaviorisme” oleh Skinner, bahwa dalam evaluasi pembelajaran, hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melalui interaksi dengan lingkungan, yang kemudian menimbulkan perubahan tingkah laku, demikian tidak sederhana, karena rangsangan yang diberikan akan saling berinteraksi, dan hubungan antar stimulus akan memengaruhi reaksi yang dihasilkan. Reaksi tersebut memiliki konsekuensi-konsekuensi yang nantinya menyebabkan lahirnya perilaku. Oleh karena itu dalam memahami tingkah laku peserta didik  secara benar harus mengerti hubungan antara stimulus. Serta memahami konsep yang dimunculkan dan berbagai dampak yang timbul akibat respon tersebut. Maka “media” atau “teknologi google” sebagai alat perubahan mental untuk memperbaiki tingkah laku, itu nihil. Sebab setiap alat yang digunakan tetap perlu penjelasan  lagi.

Senada dengan pendapat lain yang beranggapan bahwa teknologi tak berdampak serius terhadap peningkatan kecerdasan dan kemampuan berpikir siswa. Teknologi hanya sekadar alat yang memanjakan siswa. Dalam laporan penelitian Organisasi untuk Kerjasama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) menyebutkan, komputer tidak membantu meningkatkan hasil akademik siswa sekolah.  Justru, teknologi bisa menghambat kemampuan siswa. Menurutnya survei yang diwartakan oleh Andika Hendra M, di Asia, prestasi siswa tanpa kehadiran teknologi justru lebih baik. Di Korea Selatan, penggunaan komputer hanya sembilan menit di sekolah, sedangkan di Hong Kong hanya 11 menit.

Seyogyanya mari sudahi keniscayaan tentang siswa yang akan dominan bergantung pada teknologi khusunya “google”, proses berpikir teoritis menjadi terkikis bahkan habis karena peserta didik jarang dan tidak pernah lagi membuka buku pelajaran konvensional, maka seorang guru harus memainkan perannya sebagai curriculum designer, fasilitator, instruktur, dan trainer yang mutlak  tidak bisa digantikan  dengan google, kelas facebook, dan rumpun teknologi lainnya. Guru boleh men-sumerry berita yang berfariasi, mengadaptasi materi dari google untuk membantu pembelajaran, Karena tidak semua materi pelajaran mengalami dehidrasi teknologi, seperti pada pelajaran bahasa Indonesia, materi keterampilan menyimak, lebih maksimal dibelajarkan di kelas dibandingkan di dalam sebuah laboratorium bahasa untuk melakukan praktiknya-Authentic Materials “Terlatih dengan peristiwa sesungguhnya”, Kecuali saat memberikan ‘model’ maka butuh dinafasi teknologi Lab Bahasa. Demikian para pelaku pendidikan perlu disadarkan bahwa pembelajaran berbasis teknologi dibangun oleh unsur; hardware (perangkat keras), software (Aplikasi atau sistem), dan brainware (sumber daya manusia-guru-curriculum designer). Begitupun implementasi UNBK masih butuh perhatian pemerintah, setidaknya peka dan merata dalam memberikan fasilitas tekonologi kepada sekolah-sekolah jika masih ambisius pada aktualisasi electronic learning dan online learning tersebut tanpa terkecuali.  Barulah teknologi menjelma menu lezat dan beretika di sekolah.

 

Ulinnuha, Lahir di Serang, pada 18 Juni tahun 1993. Tinggal di Desa Pulo Panjang, Banten. Domisili saat ini di Kalibata Pulo, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan.  Ia adalah alumni Untirta  Pendidikan Bahasa dan Sastra (2016),  kini ia tercatat  sebagai mahasiswi Magister Pendidikan Bahasa di Universitas Muhammadiyah Prof. DR.HAMKA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.