Sejak Nabi Adam Sampai Gong Travelling

Sejak pertama kali turun ke muka bumi, Nabi Adam, menurut apa yang disampaikan oleh K.H. Ahmad Muwafiq dalam beberapa ceramahnya, Nabi Adam membuat tanda di muka bumi pada tiap persinggahannya. Agar tidak lupa pulang, tempat persinggahannya diberikan tanda dengan batu-batu kemudian berkeliling mencari Hawa lalu menandai perjalanannya lagi dengan batu-batu agar tidak lupa pulang. Lama-lama batu itu menumpuk dan semakin besar, menjadi sebuah bangunan paling besar pertama kali di muka bumi yang kemudian bangunan pertama kali itu diabadikan oleh Allah SWT yang kini terkenal dengan nama Ka’bah.

Memasang batu-batu sebagai tanda bahwa Nabi Adam pernah singgah di tempat itu ternyata juga dilakukan oleh keturunan Nabi Adam sampai saat ini, hanya saja dalam bentuk yang berbeda. Sekarang, keturunan Nabi Adam berfoto ria, selfie, wefie dan melakukan gaya-gaya gila saat difoto pada tempat-tempat yang mereka kunjungi. Apalagi kalau tempat itu menarik dan baru dikunjungi, seperti di tempat rekreasi, maka ritual berfoto adalah sesuatu yang harus dilakukan oleh sebagian besar keturunan Nabi Adam masa kini. Tidak boleh tidak. Kalau tidak berfoto semua terasa hambar. Tidak bisa diunduh di fesbuk, instagram dan twitter. Bisa-bisa perjalanannya dianggap hoax jika bercerita kepada teman kalau tidak ada fotonya.


Hal yang sangat lumrah sebetulnya, apalagi manusia masa kini memang adalah manusia yang ingin menunjukkan segala sesuatu yang ada dalam dirinya di hadapan umum, bahkan di depan sebuah hidangan sekalipun mereka ingin menunjukkan sesuatu yang hendak mereka makan. Ajaib. Penulis pun tidak mengelak soal ini. Tidak bisa disalahkan pula, karena zaman now memang adalah zaman yang serba terbuka. Asalkan dalam keterbukaan itu tidak porno dan tidak melanggar moral yang diterapkan di bangsanya.

Namun ada yang lebih cerdas dari mereka yang hanya mengabadikan sebuah foto saat mengunjungi suatu tempat yang mereka anggap eksotik. Merekalah orang-orang yang terpilih, yang tergerak hatinya untuk menuliskan suasana atau kondisi suatu tempat yang mereka kunjungi lalu membagikan tulisannya melalui fesbuk, instagram, blog, bahkan membuat buku tentang perjalanan mereka, atau istilah kerennya adalah melahirkan sebuah buku catatan perjalanan. Mereka ini adalah yang melahirkan dan mengabadikan perjalanannya dengan membuat banyak tulisan, sebab kalau tulisan cenderung sulit dilupakan dan terus dikenang. Mereka juga dapat imbalan seperti kecukupan materi dan nonmateri atas apa yang sudah dituliskannya.

Di Indonesia banyak yang mengabadikan perjalanannya melalui catatan-catatan lalu dibukukan. Di antaranya adalah Agustinus Wibowo, Junanto Heridawan, dan sederet nama-nama keren lainnya. Namun ada satu nama yang jauh lebih lama menuliskan catatan perjalanannya, bahkan perjalanannya itu menghasilkan novel yang semakin melambungkan namanya. Dialah Gol A Gong, penulis catatan perjalanan ‘The Gong Traveling’ (Salamadani, 2013, judul sebelumnya ‘Perjalanan Asia, travel writing’, Puspa Swara, 1993). Selain menulis catatan perjalanan itu, Gong juga sukses membuat novel berseri berasa perjalanan berjudul ‘Balada Si Roy’ yang saat ini masih jadi bahan perbincangan bahkan roman-romannya akan difilmkan di pertengahan tahun 2018.


Gong menyadari bahwa semuanya memang harus dituliskan. Termasuk menulikan catatan pada sebuah perjalanan. Pendiri rumah Dunia ini pun membuat lini usaha agen travel bernama Gong Travelling, di bawah yayasan yang dipimpinnya, Yayasan Pena Dunia, sebagai salah satu sumber dana untuk kelangsungan kegiatan Rumah Dunia, yang chord-nya tetap dalam upaya-upaya kampanye menulis.

Gong Travelling mengajak para peserta travel seputar Asia Tenggara seperti Singapura, Malaysia, Kamboja, Thailand, Vietnam dan negara-negara Asia Tenggara lainnya ketika pulang lagi ke Indonesia membawa oleh-oleh tulisan. Terlihat berat seperti yang awalnya dibayangkan oleh kebanyakan peserta travel yang mungkin tidak terbiasa menulis. Gong ataupun relawan Rumah Dunia yang menjadi tutor di sebuah perjalanannya pun mafhum dengan hal tersebut, namun dengan gaya yang santai saat memberikan materi menulis sembari jalan-jalan ternyata sudah membuahkan hasil. Ternyata semua orang punya potensi untuk bisa menulis. Para peserta akhirnya menyadari bahwa menulis itu gampang setelah mendapatkan ilmunya dan mau mencobanya.

Terbukti dengan beberapa agenda perjalanan Gong Travelling, para pesertanya sudah banyak menelurkan buku catatan perjalanan, baik perkelompok ataupun perorangan dalam sekali perjalanan yang diterbitkan oleh Gong Publishing (lembaga penerbitan Rumah Dunia yang juga sebagai salah satu sumber dana kegiatan Rumah Dunia). Gong Travelling bahkan pernah menerbitkan 100 buku catatan perjalanan dari peserta yang mendapatkan beasiswa vokasi menulis dari Kemendikbud RI tahun 2016 yang pesertanya berasal dari kalangan pegiat literasi seputar Banten, Jakarta dan Jawa Barat.

Di tahun 2018 pun Gong Travelling masih mengupayakan pada setiap perjalanan para pesertanya dianjurkan untuk menulis sesuai dengan tagline-nya ‘jalan-jalan sambil nulis buku’ yang dimulai ke Singapura-Malaysia (Jalur Sutra) pertengahan Januari (2018) nanti. Biasanya sebagian besar peserta takut untuk menuliskan perjalanannya karena alasan teknis dan nonteknis, Tetapi setelah perjalanan mereka malah tersenyum bahagia karena ternyata ada bakat menulis dalam dirinya. Ya, sebab, bakat menulis atau kemampuan linguistik itu semua orang punya. Begitulah Gong Travelling, anda ingin mencobanya??? (Hilman, Tour Guide Gong Travelling)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.