Hujan Durian di Tanah Baduy

Kemarin, saya, Jack Alawi, Sirajuddin Abbas, Tajwini, Rizki, Dicki Fansuri, Beje dan Haris berangkat menuju kampung adat Baduy, Kabupaten Lebak. Jauh hari sebelumnya, Yayat, seorang kawan dari Baduy mengabarkan, di tanah kelahirannya sedang panen durian. Mendengar kabar itu, tanpa pikir panjang kami langsung tancap gas untuk berburu durian. Kendaraan bermotor pun menjadi tunggangan kami supaya bisa sampai tujuan lebih cepat. Dari segi biaya pun ternyata mengendarai motor ke Baduy lebih hemat, hanya perlu sekitar 6 liter bensin untuk bolak-balik perjalanan Baduy-Serang untuk kelas motor bebek 110 cc.

Kalau menggunakan kendaraan umum mungkin kami harus mengeluarkan uang lebih banyak, seperti naik kereta dari Serang ke Rangkasbitung, Lebak, dengan merogoh kocek tiket seharga empat ribu rupiah, kemudian naik angkot dari statsiun Rangkasbitung ke Terminal Aweh seharga lima ribu rupiah dan mengeluarkan uang lagi sekitar tiga puluh puluh ribu rupiah naik kendaraan coltmini dari Terminal aweh ke Ciboleger yang merupakan pintu gerbang untuk memasuki kawasan kampung adat Baduy. Namun jika menaiki kendaraan umum bisa lebih nyaman karena hanya tinggal duduk saja dan ini tergantung keinginan dan pilihan anda.

Sampainya di Ciboleger, kami langsung tancap kaki menuju rumah Yayat yang ada di kampung Gazebo, kampung adat Baduy Luar yang jaraknya sekitar 3.5 kilomter saja dari Ciboleger. Sekitar sejam kemudian, Yayat dan istrinya menyambut kami di sebuah rumah khas orang-orang Baduy yang menjadi tempat menginap kami. Tidak perlu menunggu lama, Yayat langsung menyuguhkan durian kepada kami. Buset, duriannya manis sekali. Belum sampai makan tiga biji, kepala saya langsung ‘kleyeng-kleyeng’, bukan karena saya mengidap darah tinggi, tetapi saya lupa karena tadi belum sempat minum air.

Ada beberapa durian yang kami beli dari Yayat, harga perduriannya adalah 25 ribu rupiah dengan ukuran sekitar sebesar bola sepak. Rasa duriannya pun begitu manis, saya tidak merasakan ada pait-paitnya sama sekali, seperti durian yang pernah saya rasakan dari daerah lain, aroma duriannya pun tidak begitu menyengat serta tidak ada ‘kokeng’ atau sejenis hama yang membuat tekstur buah durian itu rusak. Isi durian atau daging yang menjadi inti duriannya berwarna putih, mulus, legit dan tebal sehingga membuat lidah kami terlena dibuatnya.

Pas malam hari, kami makan bareng dengan keluarga Yayat dan beberapa rekan petualang yang berasal dari Tangerang. Menu yang dihidangkan adalah mie kuah, nasi, sarden dan sambal yang barang mentahnya kami bawa dari Serang. Usai makan, ternyata Yayat pun tahu bahwa harus ada hidangan penutup setelah makan, sehingga beberapa durian pun dia kupas lagi. Huh, kami langsung bertarung lagi dengan durian. Dihitung-hitung ada belasan durian yang sudah dikupas saat itu karena Yayat ternyata memberikan bonus durian yang banyak kepada kami.

Esok harinya, kami gegas pulang, sebelum pulang Yayat pun memberikan lagi durian kepada kami, beserta beton atau biji durian yang direbus, rasanya pulen dan merupakan sumber karbohidrat. Akhirnya kami kembali ke Serang. Di perjalanan, banyak orang-orang baduy menanggung durian, membawanya ke rumah, ke Ciboleger serta di angkutnya ke beberapa mobil yang mungkin adalah pemborong durian. Sayangnya, saya tidak bisa mengabadikan momen ini karena kondisi kamera yang lowbat. Yayat pun berpesan, jika ingin lagi durian maka datang lagi saja ke Baduy bulan depan, Februari (2018), karena menurutnya itu adalah puncak dari panen durian di Baduy. (Hilman).

*/Foto Haris

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.