Indonesia Darurat Puisi Anak

SERANG, Koran RD-Motor Literasi (Moli) bersama relawan Rumah Dunia menyambut Hari Puisi Sedunia dengan mengadakan nonton bareng dan diskusi terkait peta perpuisian Indonesia, di Sekretariat Moli, Lingkungan Ciloang, Kelurahan/Kota Serang, Rabu (21/3/2018). Ada banyak hal yang dibicarakan dalam diskusi menyoal puisi, salah satunya mengerucut pada minimnya puisi anak di Indonesia.

Menurut pendiri Moli dan ketua FTBM Pusat, Firman Venayaksa, Indonesia saat ini berada dalam darurat puisi anak. Artinya, ada banyak puisi yang ditulis oleh orang dewasa yang begitu serius namun melupakan perhatiannya kepada anak-anak dalam bidang puisi.

“Sekarang kita kekurangan puisi anak-anak. Padahal apa susahnya nulis puisi anak, dari segi diksinya juga sederhana namun entah mengapa saat ini hanya sedikit saja yang menuliskan, bahkan nyaris tidak ada yang menggagasnya untuk saat ini,” ujar dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra di Untirta ini.

Firman menuturkan, padahal di belahan bumi lain, sastrawan yang biasa menuliskan karya untuk orang dewasa di masanya juga bertanggung jawab kepada generasi setelahnya. “Sebut saja TS Elliot, Dickens ataupun yang lainnya, mereka menulis puisi anak karena mereka sadar bahwa generasi itulah yang nanti akan menggantikan mereka,” katanya.

Penyair muda Indonesia, Abdul Salam juga merasakan hal serupa. Menurutnya, keberadaan puisi-puisi yang diajarkan di sekolah dasar seperti puisi Chairil Anwar ataupun puisi-puisi angkatan lama, yang sebetulnya belum saatnya diajarkan kepada anak-anak disebabkan karena kurangnya keberadaan puisi yang sepadan dengan usianya.

“Sekarang yang harus kita cari adalah solusinya. Apa yang harus kita perbuat dan bagaimana puisi itu bisa disosialisasikan ke berbagai kalangan dengan media lain seperti musik dan film adalah yang harus disegerakan, selain tentunya memperbanyak puisi yang sesuai dengan bahasa anak,” ungkapnya.(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.