Hardik(nas) dan Panggung Serbet

Oleh Hilman Sutedja

Saya baru saja menerbitkan buku puisi bulan kemarin, judulnya ‘Berbisik kepada Bidadari’ (Gong Publishing). Kalau anda ingin tahu isinya, maka belilah dan baca bukunya, supaya anda bisa saya sebut sebagai warga yang sangat menghargai karya anak bangsa. Hueheheheh… Terlepas dari perasaan takut, khawatir dan ‘deg-deg ser’ apakah buku saya ini dibaca atau tidak oleh orang-orang, dengan menerbitkan buku puisi jujur saya tidak bisa menyembunyikan kegembiraan yang unik ini. Semua terasa menyenangkan meski sebetulnya menulis puisi itu adalah kepahitan.

Namun perasaan campur aduk itu berujung pada kekecewaan mendalam usai mendengar bahwa Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Provinsi Banten hanya memberikan hadiah dua helai serbet kepada juara 2 lomba baca puisi dalam rangka perayaan Hari Pendidikan Nasional, kemarin (2/5/2018). Meski baca puisi bukan melulu soal perlombaan, sebab puisi dibacakan sejatinya bertujuan untuk mengetuk hati-hati yang keras, tetapi tetap hati saya campur aduk; sedih, marah sekaligus ngekek. Seperti orang yang bersedih pada puncaknya, biasanya yang saya rasakan bukan hanya tangisan yang keluar, melainkan juga tawa akan mengiringi karena begitu lucunya kesedihan itu.

Jika saya harus bersuara entah sebagai penyair atau yang sedang berpura-pura sebagai penyair yang mencoba mencari panggung panas di tengah ramainya tentang serbet ini, saya justru kagum dengan orang-orang yang begitu lantang menyuarakan ketidakadian ini. Ternyata, masih banyak orang mau membela para penyair yang hidupnya begitu sunyi. Namun sungguh disayangkan di tengah nuanasa pembelaan itu, ada saja ‘hardikan’ atau kata-kata keras bahkan kata-kata kasar keluar yang secara tidak langsung dialamatkan kepada para penyair yang katanya sebagian besar tidak ikut demo. Sungguh perbuatan itu sangat menjengkelkan. Sebagian dari yang membela penyair ini malah nyinyir dan seperti tidak bisa menahan hawa nafsunya. Entah apa yang merasuk dalam dirinya. Sebab yang saya tahu, penyair sejati adalah penyair yang terbiasa dengan segala keanehan-kenaehan yang ada di muka bumi ini. Toh, saya yakin juga, seniman, budayawan atau semacamnya, yang masih menjunjung adat kesopanan, akan lebih dingin menghadapi persoalan ini, dan jika pun mereka bersuara lantang dengan segala lakunya pasti tidak akan menyakiti orang lain. Apalagi soal serbet, mungkin mereka tabah, setabah hujan bulan Juni seperti kata Sapardi Djoko Damono dalam puisinya.

Dan dengan adanya media sosial itu, hardikan-hardikan itu semakin kencang bergelora. Padahal hari kemarin dan masih di bulan Mei ini, kita baru saja memperingati Hari Pendidikan Nasional. Lalu apakah sebetulnya pendidikan? Apakah pendidikan menyoal tentang kelas atau bangku kuliah saja? Tentu tidak, yang saya tahu, pendidikan adalah belajar bersabar, menghargai orang lain, beretika dan otomatis tidak berkata primitif dengan memojokkan saudaranya sendiri hanya gara-gara serbet.  Entah apa yang dirasakan Ki Hajar Dewantara seandainya beliau menyaksikan kejadian ini, mungkin saja beliau menangis.

Jika alasannya adalah soal perlawanan bahwa Dindikbud Provinsi Banten sudah bersifat’masa bodo’ karena tidak tahu cara mengapresiasi puisi seutuhnya, yang sebetulnya harus dilawan adalah pangkal dari penyebab adanya hadiah serbet ini. Serbet hanyalah tanda betapa tidak puitiknya pejabat Dindikbud kita. Justru pertanyaan besar yang muncul di benak saya adalah apakah kita berani bersuara lantang soal sistem otonomi daerah di Banten yang mengkawatirkan ini secara holistik dan bukan hanya soal serbet? Apakah kita berani beraksi untuk melawan kebatilan yang nyata dan kita sebetulnya sudah tahu dari dulu seperti fenomena dinasti politik yang senantiasa merecoki persoalan seni budaya di Banten? Kenapa kita seolah menutup mata dengan adanya bencana calon tunggal di Pilkada Banten mendatang, yang sesungguhnya para penyair di Banten sudah berteriak lantang sedari dulu dengan segala kemerosotan ini?!  Atau kalau kita tidak mampu memikul tanggung jawab moral para penyair  yang begitu mengharukan, cobalah untuk tidak menjadikan tampian semakin keruh. (*)

*/Foto Qizink La Aziva

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.