Menulis itu Hobi yang Mengasyikkan

Hobi membaca dan menulis merupakan hobi yang mengasyikkan bagi seorang guru PGRI Kabupaten Bogor, Catur Nurrochman Oktavian. Hal itu dia buktikan dengan menggeluti dunia menulis sejak remaja tahun 90’an. Kemudian di tahun 2003 buku berjudul ‘Berjuta Bintang di Langit Sekolahku’ karya pertamanya diterbitkan oleh penerbit Grafika, dan kini memiliki  17 buku di antaranya buku antologi dan buku solo.

Awal perjalannya dalam dunia  menulis hingga memiliki karya, menurut pria kelahiran Jakarta ini berawal dari menulis antologi dengan teman-temannya di kampus seputar pendidikan namun ia sempat vakum menulis hingga beberapa bulan selepas lulus dari kampus.

“Saya sempat terhenti menulis selepas lulus dari kampus, tapi saya memulai kembali dan meneruskan hobi yang dulu saya miliki. Sehingga lahir beberapa karya yang sudah diterbitkan.” Curhatnya.

Kini, di sela-sela kesibukanya sebagai guru PGRI dan dosen, gairah menulisnya justru semakin menggebu, bahkan tahun ini dua buku akan segara terbit. Kesibukannya bukan lagi sebagai gangguan, karena sewaktu berstatus mahasiswa  saat menggarap buku solo yang ketiga berjudul ‘Mengapa Guru Harus Menulis?’ ia mengerjakannya di waktu senggang mengerjakan tesis.

Saat koranrumahdunia mewawancarai Catur ia malah menyodorkan buku ketiga tentang ‘Mengapa Guru Harus Menulis?’ Salah satu buku yang terbit saat kuliah pascasarjana di UPI Bandung. Menurutnya, buku itu untuk memotivasi guru-guru untuk menulis.  Catur menegaskan bahwa guru itu seharusnya bisa  menulis karena itu salah satu cara untuk mengembangkan diri bahkan untuk kenaikan pangkat juga.

“Saya cukup khawatir kepada guru-guru yang menyatakan menulis itu sangat sulit, nanti jalan pintasnya dengan cara plagiat karya orang, itu yang membuat saya khawatir. Dan untuk mengatasi kekhawatiran tersebut, maka lahirlah buku tentang Mengapa Guru Menulis?” kata ketua Ikatan Guru Penulis (IGP) PGRI Kabupaten Bogor ini.

Merujuk kepada pepatah lama, ‘menulis lahir dari kegelisahan’ inilah juga yang ditekankan dalam diri Catur. Kegelisahanya tentang dunia pendidikan di Indonesia kemudian dicurahkan lewat buku-bukunya.

“Karena kesukaan menulis saat remaja, dan suka membaca karya-karya terdahulu seperti penulis Hilman, Boim, dan Gol A Gong, karya-karya beliau saya pelajari teknik yang beliau tulis. Saya menyimpulkan, bahwa menulis itu mengasyikkan tidak sulit dan menyehatkan jiwa,” tutur laki-laki kelahiran 2 Oktober 1973. (iyoey)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.