Terinspirasi dari Rumah Dunia, Dirikan Pustaka Terbang

Oleh Taufik Hidayatullah


Saya adalah mahasiswa jurusan Tadris Bahasa Inggris (TBI), Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin Banten. Saya terkena virus literasi oleh Komunitas Rumah Dunia sejak Semester 3 tahun 2016. Saat itu, saya mengikuti program regularnya yaitu Kelas Menulis Rumah Dunia (KMRD) angkatan ke-27. Gol A Gong, Pengelola Rumah Dunia mengatakan, kalau mau serius belajar di sini, maka datanglah lebih awal dengan membawa tulisan dan membantu jadi relawan. Setelah usai mengikuti KMRD yang ditandai dengan peluncuran antologi cerpen, Appasionata untuk Lien, Gong Publishing 2016. Kemudian saya ditawarkan oleh Gol A Gong untuk menjadi relawan yang menetap di asrama Rumah Dunia karena sering membatu relawan lainnya untuk berkegiatan.

Kampus

Latar belakang pendidikan tinggi tidak memungkiri bahwa seseorang dapat menyukai dengan dunia literasi, terlebih lingkungan sekitarnya tidak mendukung untuk mendekatkan dirinya dengan buku bacaan. Saya pernah survei di lingkungan kampus. Saat memfotokopi, saya melihat beberapa mahasiswa yang sedang duduk santai sambil merokok dan minum kopi, sampai terdengar suara obrolan, candaan dan bullyan. Saya belum menemukan mahasiswa yang sedang membaca buku. Kata literasi banyak orang yang mendefiniskan, seperti Gol A Gong yang mengartikannya, “Sebagai cara untuk mengubah hidup menjadi lebih baik”. Saya sangat bersyukur bisa melanjutkan pendidikan ke tingkat mahasiswa (S1) dan memiliki lingkungan yang baik pula.

Di Kampus, saya mengamati bagaimana sistem pendidikan dan pembelajarannya dengan cara bertanya dan berdiskusi kepada dosen ataupun mahasiswanya. Saya menarik benang merah bahwa kampus merupakan jembatan untuk menunjang kesuksesan yang lebih menjurus kepada objek studinya, meskipun ada beberapa yang tidak sesuai dengan jalurnya. Sebagai mahasiswa yang baru mengenal dunia kampus, saya belajar menanamkan kandungan arti Tri Dharma Perguruan Tinggi yakni pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan, serta pengabdian pada masyarakat.

Saya merasa khawatir dengan pertanggungjawaban dari Tri Dharma Perguruan Tinggi kepada masyarakat setelah lulus dan dinyatakan wisuda oleh pihak akademik kampus. Apa yang bisa saya berikan kepada kampung halaman, masyarakat dan orang banyak untuk mentransfer ilmu yang didapat? Bagaimana jika saya diabaikan saat berencana untuk membuat gerakan positif? Lambat laun, saya belajar dan terus berproses untuk bisa menjawab pertanyaan tersebut. Pada akhirnya saya mengenal Komunitas Rumah Dunia.

Rumah Dunia

Rumah Dunia adalah komunitas kebudayaan yang memberikan kesempatan luas kepada siapa saja yang memiliki kehendak untuk membangun manusia cerdas, mandiri, kritis, demokratis dan berbudi luhur. Awal saya mengenalnya melalui perantara relawan Rumah Dunia bernama Baehaqi Muhammad yang sedang membagikan pamflet pembukaan Kelas Menulis Rumah Dunia (KMRD) angkatan ke-27. Dia merupakan mahasiswa UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, yang ternyata dia juga mengambil jurusan yang sama denganku yakni TBI.

Awalnya saya merasa canggung dengan komuntas ini, karena ada beberapa bisikan yang terdengar sampai telinga saya bahwa, Rumah Dunia itu mengajak kepada hal-hal yang menyimpang dengan agama. Ternyata itu tidak benar. Saya membuktikannya lewat kegiatan KMRD selama 6 bulan dengan mengikuti kegitan lainnya seperti; Majelis Puisi, Bedah Buku, Panggung Kampung, Musikalisasi Puisi, World Book Day, Penampilan Teater, Pesta Anak, Diskusi, Jumpa Pengarang Panggung Puisi sampai acara Detik Akhir dan Detik Awal. Hasilnya adalah positif, dan justru Rumah Dunia itu mendekatkan seseorang kepada agama dengan selalu mengkampanyekan iqro yang tertara dalam Alquran surat Al-Alaq ayat 1-5.

Sampai pada puncak pembelajaran kelas menulis adalah menerbitkan buku kumpulan cerpen bersama KMRD angkatan ke-27 yang berjudul, Appasionata untuk Lien yang diluncurkan bersamaan dengan acara Detik Akhir 2016, Detik Awal 2017. Saya merasa terharu saat bercerita proses kreatif membuat cerpen, Ayat dan Fitri dalam antologi tersebut. Yang masih kuat terjaga sampai saat ini ialah perkataan Gol A Gong, “Membaca dapat mengubah dirimu, menulis mengubah dunia. Melakukan perjalanan menyatukan keduanya.”

Setelah itu, saya menjadi relawan Rumah Dunia yang menetap tinggal di dalam asrama. Saya banyak belajar menjadi relawan, terlebih saat diamanahkan menjadi penanggungjawab acara. Belajar memahami 5 pilar organisaasi ala Rumah Dunia yakni basecamp, SDM, program, dana dan networking. Belajar menjadi wartawan koranrumahdunia.com sampai belajar memaknai arti kehidupan. Semua itu, saya menjalaninya dengan happy bersama para relawan lainnya; Tias Tatanka, Nabila Nurkhalishah, Gabriel Gee, Jordy Alghifari, Natasha Azka, Toto ST Radik, Firman Venyaksa, Ahmad Wayang, Abdul Salam, Jack Alawi, Hilman Sutedja, Daru Pamungkas, Baehaqi Muhammad, Aray Zenal Abidin, Sirajuddin Al-Abbas.

Saya menikmati proses setiap berkegiatan di Rumah Dunia, karena saya yakin setiap kegiatan positif akan berdampak baik. Pada tanggal 19-23 Januari 2018, saya bersama teman-teman; Daru Pamungkas, Rudi Rustiadi, Vita Mardhianti, Tesar Alamsyah Rahdian, dan Bu Isna Farida, mengikuti travel bersama Gong Traveling (salah satu fundraising Rumah Dunia) menuju Singapura, Melaka dan Kuala Lumpur yang dipandu oleh Gol A Gong. Dari perjalanan tersebut, saya bisa membuat buku solo dengan judul Terbang Bersama Doa.

Gol A Gong berpesan saat memberi endorsement dalam buku Terbang Bersama Doa, “Siap-siap membuka peta perjalanan baru lagi. Dunia masih luas untuk kita jelajahi.” Saya termotivasi untuk mengunjungi negara-negara yang belum dikunjungi. Saya percaya dengan kejaiban kata-kata, seperti slogan Rumah Dunia, “Rumahku Rumah Dunia, kubangung dengan kata-kata.” Yang sampai sekarang bertahan menembarkan virus literasi, dan mengamalkan amanah Sultan Banten yakni; baca, tulis, belajar dan mengajar.

Pustaka Terbang

Berlandaskan dari rutinitas kegiatan relawan Rumah Dunia, saya termotivasi untuk membuat seperti Rumah Dunia yang diberi nama Pustaka Terbang dengan tagline “Satu langkah gerakan positif menjadi lebih aktif.” Saya ingin mengamalkan Tri Dharma Perguruan Tinggi Negeri bersama teman-teman di Kampung Kepuh II, RT.001/003, Kecamatan Anyar, Desa Anyar, Kabupaten Serang, Banten dengan mengabdi pada masyarakat.

Selasa sore, (19/7/2018) saya bersama teman-teman remaja kampung memulai gerakan awal untuk melakukan program baca buku dan menggambar gratis guna mendekatkan masyarakat kepada buku dengan alasan buku adalah jendela dunia. Saya mulai meniru program yang ada di Rumah Dunia. Firman Venayaksa, selaku presiden ke-2 Rumah Dunia yang kini menggagas komunitas Motor Literasi (Moli) berkata, organisasi sekarang yang efektif itu dengan cara organisasi modern, “Memunculkan tokoh baru dari anggota komunitas tersebut, tidak lagi dari penggagasnya.”

Saya bersama teman-teman kampung, menginginkan ke depannya Pustaka Terbang dapat menjadi galangan remaja untuk belajar dan berbagi. Mengenalkan dunia lewat buku dan mengubah mindset bahwa membaca dan menulis itu bisa mengubah kualitas diri bahkan bisa mengubah dunia. Jika saya mengutip perkataan Pramoedya Ananta Toer, “Orang boleh setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

*catatan: media sosial Pustaka Terbang bisa dilihat lewat Facebook Pustakaterbang Anyar dan Instagram @pustakaterbang

Penulis adalah mahasiswa semester 7, jurusan Tadris Bahasa Inggris, fakultas Tarbiyah dan Keguruan, UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten dan relawan Rumah Dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.