Category Archives: Cerbung

Perang Hitam di Banten

Empat Belas
SAAT KARIM MENANGIS
Perang-Hitam-e1453969684207Saat Hayyul dan Warni sudah berada di dalam angkutan kota menuju Pandegelang kembali, Asih segera mengumpulkan anak-anaknya. Asih memberi petuah. Ia mengatakan dirinya tidak pernah melarang anak-nya pacaran dengan siapa pun. Raka dan Angga juga boleh bekerja di bidang masing-masing.

”Mamah ingin kalian merawat Rumah Bunga ini.”

Lalu Asih bercerita kalau dulu, setiap malam sebelum tidur, Papa Raka dan Angga mengidamkan rumah seperti ini. Setiap bicara tentang suaminya, mata Asih kembali bercahaya.

“Yah… Papah kalian ingin melihat anak cucunya berkumpul di dalam rumah yang sehat. Rindang. Jauh dari hiruk-pikuk kendaraan dan sesak polusi udara.”

Raka dan Angga juga hanyut dalam suasana. Haru.

Perang di Hitam di Banten

Perang-Hitam-e1453969684207Tiga Belas
ANTARA MELY DAN WARNI
Dengan tergesa, Raka sibuk mengambil ponselnya yang terus bunyi. Malang, bukannya langsung ditekan, ponsel malah jatuh karena Raka panik dan tangannya bergetar hebat. Ia segera mengambil ponsel sambil celingukan. Tanpa melihat siapa yang menelpon, Raka segera mematikan suara ponsel dengan menekan sembarang tombol. Raka menarik napas, lega. Namun dari dalam terdengar suara. Raka berpikir, mungkin Hayyul sudah banggun. Raka salah.

“Ada orang ngintip!”

Warni berteriak. Panik!

Selanjutnya, seisi pesantren seolah diguncang-guncang gempa dengan skala richter tingkat tinggi. Seluruh santri berhamburan dari dalam kamar. Memburu asal suara. Mereka tahu siapa yang berteriak: Warni, putri Kiai. Hayyul yang masih termenung dengan mata sembab dan tubuh terguncang-guncang di dalam majlis sejak Isya tadi ikut terlonjak. Plash! Plash! Bayangan Raka hilang seketika.

***

Asap mengepul dari cerutu Kiai Jamal. Membentuk bulatan-bulatan yang siap melilit tubuh Raka. Kiai Jamal sesekali menatap wajah Raka yang memar-memar dan tertunduk lesu. Ruangan yang barusan dipadati santri dan keluarga Kiai Jamal kembali lengang. Mereka melanjutkan tidur. Yang tertinggal hanya Kiai Jamal, Raka, dan Hayyul. Raka duduk bersila. Ia tak mampu menatap Kiai Jamal. Pun Hayyul. Raka juga tak berani memandangi Hayyul yang juga tertunduk.

Malam terus beringsut dengan hawa dinginnya yang menggigit. Hampir sepertiga malam. Kiai Jamal menghembuskan napasnya pelan. Hembusannya terasa berat. Ia menyesalkan kejadian ini. Namun ia terus mencoba bersikap bijak dan tenang, dengan kembali menyalakan rokok kretek yang tergeletak di depannya. Sesekali rontokan bara kecil merah berjatuhan di sarung merek BHS-nya, membuat tangannya sigap menyentil-nyentil abu rokok panas itu.

“Raka! Hayyul! Diminum dulu tehnya.”
Ia lalu kembali menghisap rokoknya. Suara hisapan menimbulkan suara gemeretek. Nikmat! Sangat nikmat sekali. Kiai Jamal mengangguk-angguk.

”Sudah.. sudah.. sabar, ya..”
Suasana tetap masih lengang. Raka dan Hayyul saling pandang sebelum mereka mengambil gelasnya masing-masing. Raka melirik. Ia melihat cairan yang terus bercahaya di mata Hayyul. Terus mengalir. Membanjiri mata sendu kekasihnya semenjak kejadian di alun-alun tadi pagi. Raka tak kuasa menahan perasaannya. Ia tak sanggup melihat Hayyul menangis. Sementara Hayyul bisa menatap memar di wajah Raka. Meskipun tertutup kabut di matanya dan rambut Raka yang kini semakin gondrong, Hayyul merasa Raka lebih gagah dengan rambut seperti itu. Namun hatinya kembali tertusuk saat mengingat peristiwa di alun-alun. Lagi-lagi yang terdengar hanyalah suara gemeretek bara kecil di mulut Kiai Jamal dan sisa isak tangis Hayyul. Juga hembusan sesal dari dada Raka.

“Ka…setelah mendengar pengakuan kalian, jujur.. Abah menyesalkan kejadian ini. Tapi, Abah sekaligus bersyukur…” menghirup napas dalam-dalam. ”Bagaimana kalau kamu ditangkap warga sekitar? Untung ada Badar!”

Raka merasakan lilitan kasih. Membuat tubuhnya lebih tenang. Setidaknya Kiai Jamal terlihat ramah dengan berkata demikian. Ia teringat dengan laki-laki tegap seumuran dirinya yang berhasil membekuknya barusan. Mungkin dialah yang bernama Badar, duga Raka dalam perih memar wajahnya. Lelaki itu memilik badan yang kekar, hingga gerakan Raka yang hendak melarikan dibuat tak berkutik.

“Sekarang.. Hayyul jangan lagi sedih. Abah yakin ucapan Raka benar,” Kiai Jamal memandangi Hayyul. “Yul..!”
Hayyul perlahan mengangkat wajahnya. “Muhun, Bah.”

“Hayyul seharusnya bangga pada Raka! Kamu lihat wajahnya. Itu gara-gara Hayyul. Pada dasarnya, Hayyullah yang membuat Badar dan orang di alun-alun tadi pagi menghantamkan tinjunya ke muka Raka. Abah yakin, Raka bisa saja melawan Badar. Tapi dia tidak melakukannya. Itu juga demi Hayyul, ” Kiai Jamal meyakinkan.
Hayyul hanya terdiam. Ia sesekali mendongakan wajahnya ke arah Raka. Lalu kembali memalingkan muka. Ia terus saja teringat peristiwa itu. Masih memuakkan bagi Hayyul yang memang sama sekali tidak pernah bersentuhan kulit dengan laki-laki asing. Pun kulit Raka.

“Ka..!” kali ini Kiai Jamal tengak-tengok. Ia memastikan tak ada yang mendengar apa yang akan diucapkannya. “Mungkin ini hukum karma…” Kiai Jamal kembali tengak-tengok.
Raka mengangkat kepala.

“Yah! Hukum karma waktu Abah mesantren dulu. Apa yang dilakukan Raka malam ini pernah juga Abah lakukan. Dulu! Waktu Abah mencintai Ibu!” Kiai Jamal tiba-tiba terkekeh sendiri. Sambil menerawang, mencoba membingkai kenangan masa mudanya. Raka baru tersenyum saat melihat Kiai Jamal seperti itu.

“Bahkan apa saja Abah lakukan untuk menikahi Ibu. Pontang-panting cari uang ke-sana kemari. Untung ada seorang teman yang menawari Abah pekerjaan!”

Kiai Jamal berhenti sejenak. Matanya perlahan berkaca-kaca. Raka hanya ikut tersenyum. Hayyul masih saja menunduk.

“Sudah malam. Lebih baik kalian segera tidur. Sekali lagi Hayyul harus percaya dengan Raka. Abah yakin! Dia benar.”
Kiai Jamal berdiri hendak meninggalkan mereka.

“Oh iya. Ka! Kalau mau tidur, di kamar Badar saja ya!” Kiai Jamal menepuk pundak tegap Raka untuk kedua kalinya.

“Terimakasih, Bah. Hatur nuhun!”
Kiai Jamal meninggalkan Raka dan Hayyul. Selama beberapa menit keduanya terdiam. Tak ada kata. Tak ada kalimat. Semuanya seolah hilang. Membumi dalam bisu. Dingin semakin meresap ke dalam ke pori-pori.

“Yul,” Raka mengawali dengan sapa lembut.
Hayyul tak menjawab. Namun ia perlahan mengangkat mukanya. Seraut wajah putih bersih dengan bercak air mata membuat perasaan Raka tersayat-sayat. Hayyul sejenak menatap Raka. Lalu kembali tertunduk.

“Yul, kalau memang Kakak bersalah dan tak patut untuk dimaafkan, Kakak rela dengan segala keputusan Hayyul.”
Hayyul tak menjawab. Ia terus menyembunyikan wajahnya.

“Tapi, sekali lagi Kakak tidak bermaksud menyakiti Hayyul. Sama sekali tidak! Kakak hanya kebetulan menahan Uha yang hendak terjatuh!” Raka terus menjelaskan. “Yul! Bicaralah! Kakak ingin tahu jawaban kamu sebelum subuh.”
Suasana masih terus lengang. Semakin lengang.

“Kak.. Hayyul cuma merasa kecewa melihat Kakak tadi pagi. Selama ini Kakak di mata Hayyul adalah laki-laki yang sopan. Tapi ketika mata Hayyul melihat kak Raka berpelukan dengan gadis itu, Hayyul serasa dibohongi. Tapi… ketika Kakak datang ke pondok ini dan mempertaruhkan nyawa kakak, Hayyul percaya.”
Senyum manis pun kembali menyembul dari wajah Hayyul.

“Jadi kamu mau memaafkan Kakak, Yul?” tanya Raka penuh semangat. Wajahnya berseri. Hayyul tak menjawab. Ia hanya menganggukan kepala. Tanpa sepengetahuan Raka, senyum di wajah Hayyul masih juga mengambang.

“Ekhemm!! Kheem!!”

Terdengar suara Kiai Jamal dari dalam rumah.

Raka sadar. Ia harus mengakhiri nostalgianya. Keduanya berpisah dan meninggalkan pendopo. Hayyul menuju kamarnya. Raka menatap langkah kekasihnya. Raka kembali mengingat cerita Hayyul. Segala usaha telah dilakukan Hayyul untuk menghubunginya. Namun ia terus gagal. Ternyata selama ini Hayyul berada di sebelah selatan kotanya. Tidak jauh. Tapi mengapa sampai sesulit itu? Batin Raka menelusuri peristiwa-peristiwa yang dilaluinya. Raka langsung tersentak dari lamunan. Angga menelepon. Ia segera menerimanya.
“Lo kemana aja sih!? Dihubungin nggak yambung-nyambung! Tadi rumah kita disantronin maling, Ka!”
“Apa!? Sory di sini sinyalnya kembang kempis! Kapan?”
“Tiga jam yang lalu! Untung ada Mang Karim!”
“Mamah gimana?”
“Mamah marah. Katanya, elo langsung matiin HP saat dihubungi. Padahal Mamah susah payah ngubungin elo!”
“Sekarang Mamah mana?”
“Mama udah tidur! Mau dibangunin?”
“Nggak usah. Eh, udah nggak marah lagi, nih?” goda Raka.
“Udah! Gua juga mau tidur.”
Tuut. Tuuuut… telepon diputus. Raka pun menuju kamar Badar.

***

Pagi masih remang. Dingin masih menggigit. Para santri kembali melawan dan melepaskan pelukan setan. Melempar selimut kain wol iblis. Sebagian sudah kembali berjejal di majelis. Mereka sudah siap melakukan shalat subuh berjamaah. Di sudut-sudut kampung terdengar orang membacakan tarkhim dari corong-corong masjid. Shalawat dan takbir bersilangan bagai gemuruh perang melawan jiwa-jiwa yang masih enggan bergegas. Pandegelang sang kota santri sudah menggeliat.
Raka bangun lebih awal dari pada Badar. Ia segera menuju tempat wudhu ketika seisi santri membilang zikir dalam do’a dan sujudnya. Raka berwudhu di sebuah sumur yang berada di depan rumah kiai Jamal. Sumur khusus keluarga Kiai. Di sini tak ada keran. Hanya ada sebuah ember besar yang diberi lubang, layaknya keran. Itu bukan hal yang asing baginya. Ini pesantren!

“Aww!!”

Raka kesakitan ketika ia membasuh mukanya. Memar di mukanya terasa perih. Perlahan ia menjamahnya. Namun ia terus membasuh mukanya. Lalu dia bergegas shalat. Shalat dan tilawah sudah selesai ia lakukan. Raka memakai sarung dan peci Badar yang masih terlelap. Raka seolah kembali terseret pada masa-masa di pesantren. Sudah lama ia tak membaca Al-Qur’an. Ia merasa hari-harinya memang terasa kering. Hanya keluar masuk kampus. Nongkrong. Zig-zag di jalanan. Selebihnya ia asik harinya di depan monitor komputer.

Al-Qur’an sudah ia tutup kembali. Pikirannya menerawang. Ia kembali memikirkan beberapa buku bahan skripsinya belum ia dapatkan. Teman-teman seangkatannya lagi-lagi mengabarinya, kalau ia sudah sampai bab tiga. Sementara Raka baru menyelesaikan dua bab. Raka berjanji, ia akan segera menyelesaikan skripsinya. Pikiran-pikiran Raka terus berloncatan dari satu masalah ke masalah lainnya. Angga, bagaimana nasibnya? Walau bagaimanapun dia adalah adiknya. Meskipun kadang ia sering membentak. Tak ada sebersit benci pada Angga. Ia sadar kalau Angga memang sengaja dicetak oleh para Ustadznya menjadi penurut. Namun semenjak berhubungan dengan Mely, Angga menjadi liar dan malas belajar. Bahkan Raka juga sering mendengar umpatannya setelah menonton teve: Dasar ustadz cabul! Raka harus bisa meyakinkan Angga kalau Mely itu wanita licik.

“Assalamu alaikum, A! A Badar! Bangun! Udah Subuh!” teriak seorang gadis di luar sambil mengetuk pintu. Raka tersentak. Badar masih juga tertidur.

Raka bangkit dan langsung membukakan pintu. Suara pintu bambu itu berderit. Matahari kini tak lagi masuk dari celah-celah kecil. Cahayanya segera menabrak tubuh Raka. Menerobos. Di depannya, Warni membawa dua gelas teh manis dan beberapa pisang goreng. Ia berdiri kaku. Setelah memberikannya pada Raka, Warni langsung masuk dan menarik-narik selimut kakaknya. Namun Badar masih terlelap. Tak peduli dengan apa yang dilakukan adiknya. Dari muka pintu, Raka tersenyum melihat adegan kakak beradik itu sambil menggelang-gelangkan kepalanya. Ada rasa iri di hatinya. Ia tidak punya adik perempuan.
Warni keluar dengan kesal karena tak berhasil membangunkan Badar. Raka masih berdiri di dekat pintu sambil tersenyum melihat Warni yang kesal. Tanpa ia sadari beberapa mata menatapnya sambil berbisik. Rupanya kehadiran Raka menjadi pusat perhatian. Sementara Hayyul juga bagai selebritis. Ia dikerumuni wartawati-wartawati dadakan! Beberapa santri banyak yang memuji dengan keberanian Raka. Ada juga yang menanyakan bagaimana awal jumpa? Kesulitan sebagai anak seorang Kiai? Kapan segera menikah? Bahkan ada yang menanyakan, Teh Hayyul sudah tidak takut dosa dengan memutuskan pacaran?

“Memang kami pacaran. Tapi jangankan bersentuhan kulit, ketemu juga enam bulan sekali. Insya Allah kami serius…”
Hayyul hanya akan angkat bicara kalau ia dituduh yang tidak-tidak. Namun ia mengaku kalau tindakannya memang tidak dibenarkan agamanya. Kesungguhan Raka yang ingin menjadikan dirinya ibu bagi anak-anak Raka, membuat hati Hayyul luluh. Meski ia sendiri sangat tahu kalau urusan jodoh bukanlah urusan manusia. Yang jelas, besok dia akan diajak ke rumah Raka menunaikan undangan Asih.

***

“Abah di rumah sehat, Yul?” Asih membuka obrolan.

“Alhamdulillah, sehat, Bu.”

Pada pertemuan ini, Asih lebih banyak melayangkan pertanyaan. Hayyul yang lebih banyak diam dan nampak santun. Hanya tersenyum malu-malu. Asih merasa lebih nyaman Hayyul, ketimbang pertemuannya dengan Mely. Sementara itu Warni yang mengantar asik membuka-buka beberapa majalah di saung bambu halaman depan rumah Asih yang rindang. Warni menyukai rumah ini. Hayyul pun demikian. Hanya saja ia lebih pandai menjaga sikapnya. Ia membatasi diri untuk berdecak kagum secara berlebihan. Raka masih belum keluar dari kamarnya. Asih menyuruhnya ganti baju dan mengobati memar di wajahnya. Raka dan Hayyul sudah menjelaskan semuanya. Asih pun bisa memahami.
Asih duduk lebih dekat dan langsung menjamah tangan Hayyul.

“Jaga Raka, baik-baik! Ibu yakin bisa meredam sifatnya. Ibu merestui kalian. Semoga kalian jodoh, ya.” Asih nampak berkaca-kaca.
Hayyul terdiam. Berjenak-jenak. Matanya tiba memerah, haru. Penuh air. Ia terharu mendengarnya. Asih mendekapnya. Erat. Erat sekali!

“Yul… bantu Raka bereskan kuliahnya tahun ini.”
Raka keluar saat melihat Asih dan Hayyul larut dalam dekapan. Ia tak ingin menganggu. Raka pun langsung menghampiri Karim di halaman. Karim menatap Raka di depannya. Napasnya terhembus.

”Mang, udah lapor belum sama Pak RT?”

”Udah, Jang.”

”Kira-kira mamang kenal nggak siapa mereka!?” Raka langsung memburu.

”Mamang tidak kenal siapa mereka.”
Raka menarik napas. ”Tapi mamang nggak apa-apa, kan? Kurang ajar bener sih mereka.. Kalau Raka ada di rumah, bakal Raka habisin mereka.”

Karim melihat cahaya kilatan mata yang tajam pada diri Raka. Ia tersenyum. Sementara itu Angga baru saja pulang kuliah dengan wajah kesal dan tak bergairah saat Raka hendak mengantarkan Hayyul dan Warni ke terminal. Angga berkenalan dengan Hayul dan Warni.

Deg!

Angga terperanjat melihat Warni. Ia seolah melihat Mely pada diri Warni. Ada beberapa guratan wajah warni yang memang tak dipungkirinya mirip dengan kekasihnya: Mely!

Perang Hitam di Banten (12)

TAMU CEROBOH

Gunung Karang bisu dan kaku di tengah malam ini. Bayangan hitam mendekati sebuah pesantren. Berbarengan dengan kaburnya rampok-rampok yang duel dengan Karim di rumah Asih. Sosok itu tak peduli pada gemerisik dedaunan yang membisiki telinganya untuk mengurungkan niat. Burung malam dan katak di sawah ikut meneriakan kedatangannya pada penghuni komplek pesantren itu. Dia adalah Raka yang terus merangsek maju. Tak ada lagi perhitungan logis dan etika di kepalanya. Raib sudah perhitungannya. Ia hanya menuruti hatinya. Meski apa pun yang akan terjadi. Ia terus maju. Hanya itu cara bertemu Hayyul.

Perang Hitam di Banten

12336110_10205076950638032_1893678384_nSebelas
SANG PENYELAMAT
Murja sudah mendekat. Satria kini tak ksatria lagi. Tergolek tak berdaya. Angga mundur. Terus. Hingga beberapa langkah. Murja terus merangsek. Meski tubuhnya gontai. Kini jarak keduanya hanya sekitar dua meter.
“Bangsat lo, ya!” teriak Murja.