Category Archives: Essay

Hardik(nas) dan Panggung Serbet

Oleh Hilman Sutedja

Saya baru saja menerbitkan buku puisi bulan kemarin, judulnya ‘Berbisik kepada Bidadari’ (Gong Publishing). Kalau anda ingin tahu isinya, maka belilah dan baca bukunya, supaya anda bisa saya sebut sebagai warga yang sangat menghargai karya anak bangsa. Hueheheheh… Terlepas dari perasaan takut, khawatir dan ‘deg-deg ser’ apakah buku saya ini dibaca atau tidak oleh orang-orang, dengan menerbitkan buku puisi jujur saya tidak bisa menyembunyikan kegembiraan yang unik ini. Semua terasa menyenangkan meski sebetulnya menulis puisi itu adalah kepahitan.

Mempertanyakan Pariwisata di Pandeglang

Oleh Hilman Sutedja

Gedung Eks Sipir Belanda di Kecamatan Menes, Pandeglang, masih bediri tegap. Tetapi cat bangunan itu mengelupas, kondisi bangunannya mencekam dan seperti perumahan hantu. Tidak menarik untuk jadi background foto. Mungkin saja nasibnya tidak lama lagi akan hancur. Dianggap tidak bermakna lagi sehingga mungkin suatu saat nanti diganti dengan bangunan baru, seperti pertokoan ataupun bangunan lain masa kini yang kebanyakan tidak ada keunikan pada bangunannya. Kita lalu akan kesulitan menceritakan kepada anak cucu bahwa Menes pernah memiliki tempat istimewa yang menjadi bukti sejarah zaman penjajahan. Sebab sejarah bukan hanya sebuah teks, melainkan juga soal peninggalan yang berupa bangunan atau kebendaan.

Dari Perjalanan Ke Harapan Banten Masa Depan

Oleh Daru Pamungkas

Agustinus Wibowo, penulis dan backpacker dunia asal Lumajang-Jawa Timur pernah mengatakan, backpacking bukanlah sekadar mengunjungi suatu tempat hanya untuk mengatakan “I have been there or I have done it,” tapi backpacking adalah proses pembelajaran. Artinya, dengan melakukan perjalanan kita bisa mengetahui banyak hal dan mempelajarinya dari berbagai macam aspek kehidupan.

Aku, Rumah Dunia dan Catatan Kaki

Oleh Anabel

Siang itu matahari menelanjangi kota, tak ada yang terlihat samar dari setiap sudut kota Serang sebab semburat cahaya matahari menyebar ke seluruh ruang jalan membuat suasana kota tampak terang benderang. Sambil mengamati sudut kota, keringatku mulai jatuh satu persatu. Kakiku yang patah-patah berjalan dari Ciceri menuju Rumah Dunia seperti menunjukkan tanda-tanda ingin ikut patah, aku merunduk sepanjang jalan menghindari panas, menyeka setiap keringat yang sibuk jatuh berguguran.