Category Archives: Essay

Guru versus Teknologi

Oleh Ulinnuha

Maniak  Google

Tampaknya, segera tiba fase pendidikan tak lagi butuh pena dan Buku. Kedengarannya tidak terlalu janggal, kendati telah banyak ditemukan siswa hanya datang ke kelas mengisi daftar hadir, usai itu mereka “dibelajarkan” oleh teknologi internet, di bawah kendali sang primadona google. Cerita yang kini merebak dan digaungkan di antaranya tentang penggunaan media pembelajaran Facebook yang diakui mensinyalir rasa senang dan disiplin baik siswa maupun gurunya, terlebih ketika mengumpulkan tugas mereka, guru akan lebih mudah mengetahui siapa yang cepat mengumpulkan. Kreativitas murid semakin terwadahi, mereka lebih bersemangat membuat hasil belajar yang dapat dimenterengkan di sosial media seperti Facebook, lalu diberikan reward oleh guru bagi karya/tugas  siswa yang paling banyak mendapat like. Betapa mudah teknologi menyihir mental peserta didik menjadi antusias akut dalam belajar dibanding tanpa teknologi.

Gempa Literasi, Upaya Membangun Kemajuan

Oleh Ardian Je

Saya membaca Gempa Literasi (Kepustakaan Populer Gramedia, 2012) karya esais Agus M. Irkham dan novelis sekaligus pendiri Rumah Dunia (RD) yang juga menjabat sebagai Ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat Indonesia, yakni Gol A Gong. Saya menikmati buku ini. Bagi saya buku ini memberi saya semangat yang tinggi untuk terus mencari dan memperjuangkan kebenaran dan kebahagiaan melalui ilmu pengetahuan. Mengapa ilmu pengetahuan? Karena dalam buku setebal 525 halaman yang berisi 99 esai ini secara keseluruhan membahas literasi (buku). Dan kita pun sepakat bahwa ilmu pengetahuan bertempat tinggal di “rumah” yang bernama buku—meski ilmu pengetahuan memiliki tempat tinggal yang lain atau “rumah” yang lain selain buku, seperti pengalaman empirik dan lainnya.

Membumikan Pancasila dan Toleransi di Sekolah

Oleh Ardian Je

Sejak di penghujung tahun 2016 lalu, bahkan hingga saat ini, isu perbedaan—terutama perbedaan agama dan keyakinan—mencuat begitu kuat di kalangan masyarakat, seolah-olah orang-orang yang berbeda dengan kita adalah musuh yang harus diperangi atau bahkan dimusnahkan.

Dari isu perbedaan itu, ada hal lain yang ikut lahir sebagai efek domino: intoleransi. Disadari atau tidak, sikap intoleransi itu tersemai dan tumbuh subur di masyarakat sekitar kita, hingga ke ranah pendidikan (baca: sekolah). Sebagai majalah berita ternama di Indonesia, Tempo edisi 19-25 Juni 2017 mencoba mengangkat isu konservatisme, yang berkaitan pula dengan intoleransi.

Peneliti dari Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat Universitas Islam Negeri (PPIM UIN) Jakarta, Dadi Darmadi, mengatakan pandangan guru membentuk pemikiran murid. Penelitian PPIM UIN tahun lalu menyimpulkan sebanyak 78 persen dari 175 guru agama Islam sekolah negeri di 11 kabupaten dan kota yang mereka wawancarai menyetujui penerapan syariat Islam. “Ada guru agama Islam yang berkali-kali menyarankan muridnya agar nanti duduk di DPR lalu memperjuangkan syariat Islam di sana,” kata Dadi pada Mei lalu (majalah Tempo edisi 19-25 Juni 2017).

Wahid Foundation turut melansir temuan serupa. Hasil penelitian mereka yang dipublikasikan pada Februari lalu menyebutkan bahaya radikalisme yang bertumbuh di sekolah-sekolah. Dari 1.626 murid yang menjadi responden, 41 persen menytujui Indonesia diubah menjadi negara Islam dan menggunakan konsep khilafah. Mereka yang menjadi responden adalah para aktivis kegiatan ekstrakurikuler rohani Islam (rohis). “Ada 60 persen responden menyatakan siap berjihad di masa mendatang,” kata Direktur Wahid Foundation Zannuba Arifah Chafsoh (majalah Tempo edisi 19-25 Juni 2017).

Lebih lanjut, hasil riset tim PPIM UIN Jakarta menyatakan, dari 500 guru agama Islam di lima provinsi pada akhir 2016 lalu, lebih dari 80 persen para guru menolak pemimpin nonmuslim dan pendirian rumah ibadah agama lain di wilayah mereka. Mereka juga menolak guru nonmuslim mengajar di sekolah tersebut, meskipun guru nonmuslim itu lebih pintar (majalah Tempo edisi 19-25 Juni 2017).

Dari riset yang dilakukan oleh dua lembaga tersebut, kita bisa mengetahui bahwa radikalisme, konservatisme dan intoleransi sedang gencar disemaitumbuhkan pihak-pihak tertentu di kalangan sekolah, terutama guru dan siswa.
Kini lembaga pendidikan, terutama guru, dan pihak-pihak yang terkait, sedang menghadapi masalah ini. Bagaimana solusinya? Sikap semacam apa yang mesti dilakukan? Ini adalah tugas kita semua, yang peduli pada pendidikan dan bangsa Indonesia.

Membumikan Pancasila dan Toleransi

Indonesia sudah memiliki dasar negara yang bernama Pancasila, yang dirumuskan oleh para pendiri bangsa, yang mencakup ketuhanan (beragama), kemanusiaan (bersosial), persatuan (berbangsa), kerakyatan (bernegara) dan keadilan. Mengapa Pancasila dirumuskan dan dipilih menjadi dasar negara? Tidak lain tidak bukan karena bangsa Indonesia sendiri merupakan bangsa yang majemuk, kompleks, beraneka ragam, mulai dari bahasa, budaya hingga agama dan kepercayaan. Pancasila itu satu untuk semua kalangan.

Guru di sekolah harus mengajarkan Pancasila dan toleransi kepada para murid dengan benar. Guruh harus mengajarkan kepada murid-muridnya agar mencintai ilmu pengetahuan dan sesama manusia. Jangan menilai orang lain dari suku, agama, ras dan atau antargolongan (SARA), tapi dari sisi manusia dan kemanusiaannya. Toh kita semua adalah sama: sama-sama manusia. Menurut Cak Nun, budayawan muslim, sebelum kita belajar menjadi seorang muslim, kita harus belajar terlebih dahulu menjadi seorang manusia (tolong koreksi jika saya salah).
Guru tidak dilarang untuk memiliki kepercayan atau keyakinan tertentu, namun jangan sampai itu dijadikan doktrin (dengan T besar) kepada para siswa. Ingat, apa yang bagi kita benar, belum tentu benar adanya, belum tentu benar hakikatnya.

Siswa yang—maaf—kurang atau bahkan tidak kritis lantaran tidak membaca buku, koran atau sumber-sumber bacaan lainnya bisa sangat mungkin menerima perkataan sang guru dengan mentah-mentah. Janganlah terlalu jauh bicara soal siswa, yang kondisi pikiran dan psikologisnya masih sangat labil dan rentan. Banyak orang dewasa pun, termasuk saya, di media sosial, belum bisa bersikap bijaksana dalam menghadapi dan menanggapi suatu persoalan sosial, terlebih persoalan agama yang sangat sensifitf ini.

Saya kira—saya meminta maaf jika ini menyinggung para pembaca—salah satu yang melatarbelakangi pandangan guru dan murid seperti ini (baca: intoleran) ialah karena kurangnya membaca.
Guru harus membumikan toleransi, disamping membumikan Pancasila. Kalau gurunya saja tidak toleran (intoleran), maka tidak heran kalau muridnya seperti gurunya, atau bisa melebihi itu. Bagaimana caranya? Kita kembali kepada Pancasila. Jika dihayati dan dimaknai secara seksama, Pancasila itu memeluk—bukan merangkul—semua kalangan dan golongan. Pancasila adalah jalan tengah antara sistem negara dan agama.

Pelajaran Pancasila dan toleransi ini tidak hanya menjadi tugas khusus bagi guru mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan atau agama saja, melainkan semua guru. Dan tentu saja harus ada kesadaran dan dukungan dari kepala sekolah atau ketua yayasan (jika sekolah itu berdiri di bawah naungan yayasan, tentunya).
Pancasila dan toleransi, dalam pandangan saya yang masih belum tahu banyak ini, merupakan pendidikan karakter bagi siswa. Siswa yang berkarakter adalah siswa yang mampu bersikap baik, penuh cinta dan kasih sayang terhadap siswa yang lainnya, juga terhadap guru dan orangtua. Kalau seorang siswa, katakanlah, aktif dan pintar di kelas, taat beribadah, patuh kepada orangtua dan guru, disenangi teman-temannya, namun tidak mengindahkan temannya yang berlainan kepercayaan (beda agama), apa jadinya? Apakah seperti itu yang dinamakan dengan pedidikan karakter?

Suatu hari, saat saya mengajar di kelas—saya mengajar Bahasa Inggris di kelas IX. Saya sengaja membuka sesi pertanyaan bebas, tidak harus terkait pelajaran bahasa Inggris, agar para siswa berani bertanya dan tumbuh rasa dan daya kritisnya. Seorang siswa bertanya, “Pak, bagaimana kalau orang seperti Ahok dimusnahkan dari muka bumi ini?” Setelah saya tanya alasannya, ia menjawab, “Dia, kan, bukan muslim.”
Astaghfirullahaladzim. Saya langsung mengelus dada. Saya sangat kaget mendapati pertanyan—atau pernyataan?—seperti itu, dari murid saya sendiri. Apa yang ada di benak kita jika generasi muda Islam memiliki pemikiran seperti ini semua? Kita tahu jawabanya. Barangkali.

Saya katakana kepada murid saya itu: Bagaimana jika sebuah komunitas muslim yang dalam kuantitasnya sedikit berada atau tinggal di suatu daerah atau komunitas yang mayoritas nonmuslim? Lalu komunitas yang mayoritas itu berpikiran sama dengan apa yang dipikirkan murid saya (ingin memusnahkan). Apakah itu manusiawi?
Tapi murid saya itu tetap keukueh dengan pendiriaannya—atau doktrin dari luar? Saya katakana lagi padanya, kita harus menjunjung tinggi kemanusiaan, salah dua—bukan salah satu—caranya ialah dengan memaknai Pancasila dan toleransi. Jika hal yang kedua itu sudah benar-benar ada dalam diri, maka kebersamaan dan kedamaian akan tercipta. Bagi para guru di  lembaga pendidikan (sekolah) ataupun guru di lembaga kehidupan, ajarkanlah para siswa tentang toleransi dan kedamaian yang berpijak pada cinta dan kasih sayang. Demikian. Salam.

Ardian Je, pendidik di MTs-MA Al-Khairiyah Karangtengah Cilegon. Buku puisinya berjudul Bojonegara (2017).

Forum TBM Madani

Taman Baca Masyarakat atau biasa disebut dengan TBM yang merupakan program pendidikan informal terkadang menjadi suatu tempat yang ‘sepele’ dan tak banyak dari kita yang memperdulikan keberadaanya. Kadang menganggapnya tidak penting. Padahal kehadiranya justu banyak membawa dampak besar bagi masyarakat, lebih jauh lagi untuk Inonesia yang lebih. Banyak sekali manfaat yang kita dapat dari membaca. Selain kita jadi lebih tahu lagi tentang dunia luar dan tentu saja menambah wawasan kita.

Bukankah suatu kemajuan dari suatu kaum itu dimulai dari kaum itu bisa membaca dan sudah membudayakan minat baca? Sumber daya manusia yang lemah itu bisa terjadi kerena rendahnya minat baca di kalangan masyarakat, membuatnya tertinggal dari bangsa maju. Karena melalui bukulah sebuah masyarakat dapat menjadi masyarakat yang cerdas, maju dan beradab. Sangat penting sekali dalam sebuah masyarakat harus ada perpustakaan yang lengkap dengan isi bukunya.

Sungguh kegiatan yang bagus. Pelantikan Forum TBM Kota Serang akan dilaksanakan Forum TBM Kota Serang pada tanggal 20 Desember 2009 mendatang bertempat di Rumah Dunia. Mengenai maksud dan tujuan diadakan pelantikan ini selain untuk mensosialisasikan program TBM pada masyarakat, juga untuk turut serta meningkatkan minat baca masyarakat, khususnya di Kota Serang, sehingga tercipta budaya membaca dan semoga bisa memberantas buta aksara, juga untuk memberikan kesempatan bagi generasi muda untuk berkarya dan berkreatifitas dalam minat membaca itu sendiri.

Pelantikan Pengurus Forum TBM ini nantinya akan dihadiri oleh 22 TBM dari Kota Serang. Diantaranya TBM Ratu Bagus, TBM Al-Azhar, Serang, Al-Ikhlas dan tentunya Pustakaloka Rumah Dunia, yang juga sekasligus sebagai tempat berlangsungnya acara Pelantikan Forum TBM itu dilaksanakan, serta masih banyak lagi TBM-TBM yang lain dari Kota Serang.

“Acara ini natinya dimulai dari Pukul 08.00 samapi Pukul 12.00. Hanya Enam jam saja,” kata Muhzen Den, selaku Humas, memberi keterangan saat rapat bersama Gol A Gong dan relawan Rumah Dunia, Senin (7/12) pagi . Sedang untuk pembicara, sementara baru diusulkan pada tiga orang, diantaranya; Gol A Gong (selaku pendiri Rumah Dunia), atau Firman Veanayaksa (Ketua 1 Forum TBM se-Indonesia sekaligus Presiden Rumah Dunia) dan Kepala Dinas Pendidikan Kota Serang, HM Hafidi ZA.

Demikianlah acara yang inssa Allah akan dilaksanakan pada hari Minggu tanggal 20 Desember mendatang di Rumah Dunia. Semoga acara ini bisa terlaksana dan makin banyak lagi lahir TBM-TBM yang lain di Kota Serang yang bermanfaat dan berguna. Amin. (Ahmad Wayang)