Category Archives: Essay

Mengurangi Kemiskinan Di Banten

Oleh Ardian Je

Di awal tahun 2018 ini, belum apa-apa Banten sudah mendapatkan realita yang kurang mengenakkan dan harus menelan pil pahit terkait masalah angka kemiskinan. Itu terlihat dari data hasil survey sosial ekonomi nasional (Susenas) Setember 2017 yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Banten pada Selasa, 2 Januari 2018 lalu. Hasilnya cukup mencengangkan, yakni jumlah warga miskin di Banten meningkat dibandingkan pada September 2016. Itu berarti, selama dalam kurun waktu setahun (September 2016 hingga September 2017), warga miskin di Banten terus bertambah, angka kemiskinan melenggang dengan genitnya ke atas anak tangga, dan kesejahteraan terpeleset sambil meringis-ringis.

Bersih-bersih dan Anak-anak(Catatan Kecil)

Oleh Jack Alawi

Suatu pagi relawan Rumah Dunia Daru ke Pinky Library Rumah Dunia untuk bersih-bersih. Ternyata di dalam Pinky Library ada dua ABG sedang merokok. Kejadian itu oleh Daru di-share ke grup WA relawan Rumah Dunia. Kemudian saya ajak dua orang ABG itu bersih-bersih perpustakaan. Buku di rak acak-acakan dan lantai masih kotor. Jadilah kami rapikan buku-buku, nyapu dan ngepel.

Angkot Literasi

Oleh Ahmad Wayang

 

Menjadi orang yang bermanfaat tidak harus memiliki banyak uang, gelar atau jabatan. Orang biasa pun bisa melakukannya. Seperti halnya Edi Bahrudin (49) atau biasa disapa Udin Angkot. Lelaki asal Pandeglang ini hanya tamatan SMP, dan berprofesi sebagai supir angkot jurusan Pandeglang-Serang. Udin Angkot mampu memberikan manfaat bagi orang-orang di sekitarnya.

Surat yang Berbicara Tentang Masa Lalu atau Kematian?

Oleh Ahmad Wayang

 

Sebelum membahas soal isi buku yang ditulis Ade Ubaidil dalam kumpulan cerpen “Surat yang Berbicara tentang Masa Lalu” ini, saya ingin menceritakan ihwal pertemuan kami, hingga kemudian kami saling kenal dan bersahabat. Saya mengenal Ade sekitar tahun 2014 lalu di Komunitas Rumah Dunia saat mengikuti kelas menulis. Selain sebagai pribadi yang mudah bergaul, Ade juga—saya melihatnya—merupakan penulis yang cukup produktif. Kita lihat saja, dimulai dari buku pertamanya berjudul Air Mata Sang Garuda (2013), disusul lagi dengan buku selanjutnya Café Serabi (2015), Mbah Sjukur (2016), Kompilasi Rindu (2016), Jodoh untuk Kak Gembul (2016), dan tentu saja buku yang akan kita bahas kali ini. Buku yang terakhir ini terbit ketika Ade menjadi salah satu pembicara dalam kegiatan Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2017. Kabarnya 8 cerpen yang ada di dalam buku ini lolos seleksi pada acara UWRF17, kemudian Ade mengajukannya ke penerbit dan lolos.