Category Archives: Gong Smash

Buku

Belum banyak buku yang saya baca. Juga saya bukan pembaca yang baik. Belum banyak buku yang saya tulis. Juga saya bukan penulis yang baik. Tapi, jika buku sudah mengubah hidup saya, itu tidak terbantahkan.

Jika menulis membuat saya kuat dan sehat, itu sudah pasti. Maka saya senang traveling (baca : tur literasi) ke pelosok-pelosok desa, memberi tahu kepada waga, bahwa membaca itu keren dan bisa mengubah kita dari “zero to hero” dari “nobody to somebody”.

Bahkan buku bisa membuat kita lupa, bahwa kita memiliki kekurangan. Buku membuatku semangat menjalani hidup.

Itulah – saya kira – alasan utama kenapa saya dan teman-teman membangunKomunitas Rumah Dunia dan menggelorakan “gempa lirerasi”, gempa yang menghancurkan kebodohan.

(Gol A Gong)

Andika Hazrumy Mengatakan yang Benar Untuk Menutupi Kebohongannya

Sebetulnya sudah saya niatkan Februari 2017 tidak akan menulis status tentang Pilkada Banten 2017. Tapi ketika nonton Andika Hazrumy di debat putaran kedua Pilkada Banten , Minggu sore (29/1) di TV One, saya kaget. Perkembangannya pesat. Cara berbicaranya sudah baik – khas anak yang ikut kursus kepribadian atau public speaking dan secara santun mampu menyudutkan Rano-Embay.  Andika juga mampu mengatakan hal yang benar untuk menutupi kebohongannya di depan kamera, ditonton jutaan pemirsa . Dia sudah jadi politikus. Dia mampu mengatakan, “Korupsi itu berbahaya.” Itu adalah hal benar, tapi sebetulnya dia sedang menutupi kebohongannya. Kalau dalam istilah agama itu “munafik”. Dia sedang berbohong, karena dia pernah jadi bagian drai pusaran KKN yang dilakukan ibu dan pamannya, yang keduanya dipenjara.

Andika Hazrumy, Ibarat “Buah Jatuh Tidak Jauh dari Pohonnya”

Seorang koruptor menikah. Kemudian si istri hamil dan melahirkan. Tentu si anak tidak menanggung dosa orangtuanya. Nah, ketika dia tumbuh dan besar, disitulah kuncinya. Apakah dia dibesarkan dari uang korupsi dan terlibat di dalamnya? Atau dia memilih menjauh dari ayahnya dean pergi? Jadi lingkungan keluarga di rumah adalah pondasi awal bagi perkembangan si anak. Ayah dijadikan tauladan, ibu tempat berkeluh kesah. Itu sebab, ibu adalah perpustakaan pertama di rumah bagi si anak.

Perpustakaan Sastra di Banten

Terkurung di perpustakaan rumah. Saya bahagia sekali. Ingat saat nge-kos tahun 1982 – 95. Hanya ada buku di kamar dengan mesin ketik dan komputer PC. Harta yang selalu saya bawa-bawa, hingga kini. Tiba-tiba mimpi lama ingin mendirikan perpustakaan sastra dunia muncul lagi.