Category Archives: Sastra

Bunda

Oleh Rusmin Sopian

Baru dalam hitungan bulan menjadi istri Pak Kades, wanita muda itu telah dipanggil Bunda oleh para pegawai dan para istri pegawai di Kantor Desa. Bahkan para ketua RW dan RT pun memmanggilnya dengan panggilan Bunda pula. Dan panggilan Bunda telah menyebar bak virus korupsi di Desa Kami, desa terbelakang.

Lelaki Penjual Kesedihan

 

 

 

 

 

Oleh Rusmin Sopian

Lelaki itu datang ke kampung kami. Aroma kesedihan mulai hadir menghiasi kehidupan Kampung yang damai dan tenteram. Menyusup dalam nurani para penghuninya. Siang dan malam. Menggerogoti rongga terdalam para warga. Meneggelamkan mareka ke dalam kesedihan pula. Para penduduk seolah-olah larut dalam kesedihan yang amat menyayat jiwa. Kesedihan yang amat menusuk kalbu. Kesedihan kini harus mareka rasakan walaupun mareka belum pernah menikmati sesuatu yang bernama kesedihan.

Ada Cerita Palsu dari Mulut Palsu Penutur Palsu

Oleh Rusmin Sopian

Narasi berupa cerita tentang sesuatu itu bergema hingga ke cakrawala. Kencang sekali. Bergaung keras hingga menembus angkasa biru. Menyusuri kaki-kaki langit. Menyusup hingga ke bumi. Bergulir kencang bak meteor. Dimangsa perilaku zaman yang makin kehilangan peradaban. Menembus dinding-dinding hati penghuninya yang kering kerontang. Siap tersulut bara. Siap menebar api.

Kaibon, Tanah Syuhada Cinta

Cerpen Oleh Erni Kurniati

Awan hitam mulai menyelimuti warna orange kemerahan di langit. Tetesan-tetesan airpun mulai membasahi bumi. Kini aku mulai berlari mencari tempat berteduh. Saat berlari mataku tidaklah fokus melihat ke depan, tanganku menutupi mata agar air hujan tidak menyakiti mataku. Tak disengaja kakiku menginjak lumut licin yang menetap di lantai batu yang tak terawat. Tubuhku mulai melayang, hingga kepalaku bersentuhan dengan tembok yang persis di depanku. Lalu, tubuhku terbanting hampir menyentuh lantai, yang menjadi saksi pernah berdirinya mushola di istana Kaibon ini. Aku pikir, aku sedang pingsan, kepalaku tidak bersandar di lantai, tetapi di tangan seseorang. Sakit kepalaku menyadarkan aku bahwa aku masih sadar. Tangannya kekar sekali, menyentuh lenganku yang kurus. Ketika mataku terbuka, aku melihat dua mata bercahaya kebiru-biruan, hidungnya menjulang ke atas, dan mulut tipisnya menganga seperti kehabisan napas. Pria itu mencoba bicara padaku, namun aku tak juga berkedip menatap matanya.