Category Archives: Traveling

Sayidati Hajar, Mengajar Membuat Saya Bahagia

Di perjalanan saya banyak sekali di pertemukan dengan para perantau dari Timur. Ada yang kuat dan bertahan di belantara kota hingga lupa pulang, namun lebih banyak yang memutuskan pulang membangun kampung halaman. Salah satunya adalah Kak Sayidati Hajar, perempuan lembut asal Nikiniki Timor Tengah Selatan. Saya bertemu dengannya atas rekomendasi Bang Boli, dan saya bersyukur, akhirnya di kontrakannya yang sederhana itulah saya bisa istirahat dengan tenang dan nyaman sebelum saya melanjutkan perjalanan menuju Timor Leste.

Baduy, Sebuah Perenungan

Oleh AA Wiratmadja

 

Sebaik-baiknya seorang muslim adalah seorang yang berguna bagi sesamanya. (Hadits Riwayat Muslim)

 

Hidup menurutku adalah melihat, merasakan dan membaca fenomena sekitar, lebih dari itu hidup adalah menjadi manusia yang bermanfaat sebaik-baiknya untuk manusia dan alam semesta ini. Inilah kisahku, kisah perjalanan tentang sebuah perenungan, persahabatan, dan kemesraan alam di Suku Adat Baduy. Berikut kisah perjalananku, selamat menikmati.

 

Kampung Gajeboh, Baduy Luar (Toleransi Alam)

Hari itu tak kurasakan panas telah menyengat kulit sawo matangku, kuperhatikan alam di sekitar perkampungan adat yang asri ini, pepohonan tinggi menjulang bagai gedung bertingkat di ibukota, sungainya ramai seperti lalu lintas kendaraan, berbunyi bersahutan seperti sirene kendaraan, air sungainya yang gemericik seolah melantunkan nada-nada hamonis tanpa kata, bebatuan yang mengisi di dalamnya seperti miniatur meja makan yang terbuat dari kaca. Pepohonan hijau berbaris beraturan tanpa sekat, seakan membuat jalur yang menuntun kita mengikuti tujuannya. Udara sejuknya bisa menyejukan hati dan pikiran, membebaskan diri dari kepenatan ruang. Di sepanjang jalan yang kami lewati benar-benar disuguhi fenomena agung sang arsitek ulung, begitu indah ciptaan-Nya.

Di balik sebuah tempat pengumpulan kayu yang berbentuk persegi, seorang wanita setengah baya berpakaian suku adat Baduy terlihat keheranan melihat kerumunan orang-orang kota sedang asyik menyerbu masuk perkampungan adat Baduy yang biasanya tentram nan damai itu. Di antara mereka ada anak-anak, mahasiswa, lalu ada yang berprofesi sebagai tenaga pengajar di sekolah atau kampus, pegawai negeri, bahkan ada juga yang menjadi reporter/jurnalis. Dengan mata terbelalak dia melihat dari kejauhan, matanya keheranan, dengan gestur tubuhnya kulihat dia sedang mengamati apa yang sedang terjadi sampai membuat kampungnya begitu ramai dan sesak. Selayang pandangnya melihat kumpulan peserta yang sedang menunaikan kewajiban seorang Muslim yaitu salat dzuhur berjamaah.

Begitu taatnya seorang Muslim pikirku dalam hati, seorang yang telah menemukan kebenaran pasti akan menjalani kewajibannya walau dalam kondisi sesulit apapun. Sebuah kebenaran yang pada hakikatnya mempunyai nilai agung akan kepercayaan terhadap pencipta-Nya. Lama aku berdiam diri di pohon kelapa yang menyerupai tiang tinggi menjulang itu, mengamati sebuah seremoni agama yang biasanya kulihat di tempat ibadah para kaum Muslim. Begitu indahnya toleransi, makna yang menurutku telah lama hilang di tatanan masyarakat yang sedikitnya masih berisikan kaum intoleran dan kaum fanatik. Di sini bahkan warga suku adat yang melihatnya pun tak sampai melarang apalagi mengganggu.

Suku adat yang terbentuk karena sebuah kebudayaan nenek moyang leluhurnya dibalut replika surga, yang jauh dari kontaminasi modernitas dan omong kosong politik. Sebuah tempat di mana toleransi antar-umat beragama dijunjung tinggi tanpa sebuah undang-undang yang njelimet, sejenak kuingat ucapan Soe Hok Gie, seorang mahasiswa UI yang juga menyukai kegiatan outdoor dan juga seorang pecinta alam, dalam buku hariannya yang termahsyur itu “Catatan Seorang Demonstran”, dia berkata “kebenaran hanya ada di langit, di dunia hanya palsu, palsu!”. Tak habis pikir memang. Kucerna perlahan kutipan itu dalam renunganku bersama damainya alam, kumasukan ke dalam hati dan pikiran. Suatu kebenaran mutlak memang ada di atas sana, di atas kemampuan dan nalar manusia, bahkan orang suci pun belum tahu kebenaran di dunia ini, kecuali Sang Khaliq.

 

Pertemuan dengan Oma Grace

Lalu diam-diam angin pegunungan menyapa tubuhku, membangunkan aku dari diskusi dalam hati, sebuah renungan diri yang membuatku sejenak terlupa akan tugasku sebagai panitia perjalanan waktu itu. Aku lihat beberapa peserta duduk bercengkerama di rumah adat yang ramah-tamah itu. Sebagian berdiri karena ingin melihat hamparan sungai yang membentang, beberapa anak kecil suku adat bermain di lapangan bekas para jamaah menunaikan salat. Di lapangan tanah itu aku bertemu dengan wanita setengah baya berperawakan khas Eropa sedang berbincang bersama cucunya yang aktif dan enerjik. Dengan aksen sedikit Inggris bercampur Indonesia, aku dengan sekejap bisa memahami bahwa dia bukan seorang Indonesia tulen. Ibu itu bernama Grace, tapi biasa dipanggil Oma Grace, Oma merupakan panggilan kepada seorang wanita yang sudah sepuh. Usianya hampir menginjak 70 tahun, dia terlihat bersemangat dan aktif, aku terheran-heran melihatnya yang masih semangat dan tangkas.

Oma tidak sendiri menjelajah Baduy, dia membawa serta cucu perempuannya bernama Renata yang masih SD dan juga koleganya yaitu Bang ozan. Di sana aku berbincang dengannya mengenai perjalanan kali ini melintas ke pedalaman, dengan berbekal pengalamanku ikut open trip sewaktu aku duduk di bangku perkuliahan, aku sudah paham betul dengan kondisi jalan/trek.

Melihat yang di depanku adalah wanita setengah baya yang juga berasal dari kelompokku, aku tak banyak berpikir, sontak aku memberi komunikasi pada Zaenal agar aku di belakang saja menjadi seorang sweeper. Sedikit banyak Oma Grace menuturkan profil singkatnya kepadaku, dia pernah mengenyam pendidikan perkuliahan di Universitas Indonesia, ikut aktif dengan kegiatan Mahasiswa Pecinta Alam UI (Mapala UI), bahkan dekat juga dengan legenda komedi Indonesia yaitu Warkop DKI (Dono, Kasino, Indro) yang juga alumnus Universitas Indonesia dan Mapala UI.

Momen yang pas pikirku dalam hati, perenungan yang kusimpan lama dalam hati dan pikiran akhirnya sedikitnya terjawab dengan kehadiran seorang dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia itu. Selain Oma Grace beserta cucunya, di perjalanan aku ditemani dengan Bang Wisnoe dan Bang Ian, mereka ini berperawakan tinggi besar, mereka berdua lebih mirip tokoh Herkules yang ada di mitologi Yunani candaku, dan mereka jugalah yang pada akhirnya menjadi tim Sweeper Oma alias Tim Sukses Oma yang menemani perjalanan seru kali ini menuju Kampung Cibeo.

 

Tim Sukses Berhasil Tiba dengan Selamat

Tak terasa cuaca terik memaksa kami meneruskan perjalanan, panas yang menyengat membuat diriku terheran akan semangat para peserta kala itu, tak kulihat letih dari wajah mereka, yang kulihat hanya senda gurau dan saling menyemangati satu sama lain. Meski berbeda latarbelakang, usia dan juga pengalaman hidup, mereka tak sungkan saling berbalas sapa dan senyum kepada kami selama perjalanan.

Beberapa jam berlalu, hari hampir sore, di perjalanan masih sangat jelas hamparan bukit naik turun, memaksa kami semua mengeluarkan energi lebih untuk mendaki dan menuruni medan yang didominasi tanah dan bebatuan gunung.

Di perjalanan terlihat beberapa warga suku adat bergerak bergegas pulang kembali ke rumah. Leuit (tempat stok pangan khas Baduy) berbentuk persegi tampak gagah nan megah berdiri di sepanjang memasuki kawasan Baduy Dalam. Tonggeret mulai ramai berorkestra di balik pepohonan rindang di sekeliling pandang kami, pertanda hari mulai gelap dan halimun turun menyelimuti hijaunya pepohonan. Pandangan mulai berganti petang, masih terlihat kumpulan kunang-kunang menari menerangi perjalanan kami, seakan menuntun kami melintasi kegelapan malam.

Tak kusangka selama menempuh perjalanan nyaris belasan kilometer jalan kaki, mendaki beberapa bukit yang tingginya nyaris membuat dada sesak, tim sukses berhasil memotivasi seorang wanita setengah baya itu. Di setiap perjalanan dengan tenangnya dia melangkah penuh kehati-hatian, terkadang berhenti sebentar sekadar istirahat kecil dengan dipandu oleh Kang Yayat, seorang lelaki Baduy.

Sesekali Oma Grace mengenang perjalanannya menjelajah alam di gunung-gunung daerah Jawa Barat, terutama Puisi Soe Hok Gie, di Lembah Mandalawangi, gunung Gede-Pangrango, yang menurut dia paling berkesan dan romantik. Sesekali puisi-puisi Mandalawangi yang terlintas dalam perjalanan membuat dia mengenang kisah masa lalunya bersama Soe Hok Gie dan kawan-kawan Mapala UI lainnya. Puisi Mandalawangi mengingatkan kita tentang romantisme alam dibalut persabahatan antar manusia, dalam konteks ini hubungan manusia dengan alam.

Berawal dari sebuah tim Sweeper alias tim penyapu, yang tugasnya mengawal sampai melakukan tindakan evakuasi bilamana ada kejadian yang gawat, kami berenam (Bang Ian, Bang Wisnu, Bang ozan, Renata, Zaenal dan aku) sepakat, melakukan ekspedisi perjalanan bersama Oma Grace, berjalan aman tanpa kendala.

Lalu kami berenam sepakat menamai tim ini “Tim Sukses” karena penggunaan tim Sweeper alias tim sapu sudah terlalu mainstream untuk digunakan di medan alam. Karenanya kami menyepakati bahwa tim Sweeper Oma dinamai Tim Sukses, karena kami saling memotivasi satu sama lain, bahwasanya kami semua akan sukses sampai ke Baduy Dalam. Semangat dan perjuangan memang tidak akan mengkhianati hasil, karenanya kami semua belajar dari pengalaman itu, bahwa melawan ego dalam diri, lebih sulit ketimbang melawan musuh yang nyata.

Orkestra malam para tonggeret semakin nyaring terdengar, tanda kegelapan akan datang. Aku dan Tim Sukses hampir sampai di Kampung Cibeo. Rindangnya pepohonan dan tenteramnya perkampungan suku adat pun bersiap menapaki malam.

Sayangnya, peraturan adat di Baduy Dalam sangat dipatuhi masyarakatnya, aku dan yang lain tak bisa mengambil foto di sini. Jujur saja, Baduy Dalam lebih eksotis ketimbang Baduy Luar, lebatnya pepohonan hutan dan bukit yang berundak ditambah ladang sawah pegunungan membawa kami tak hentinya mengucap asma Allah.

Berbagai aktivitas malam membuat sedikit gaduh kampung yang tenteram itu, karena kedatangan para turis lokal yang berhamburan seakan membuat kampung itu penuh sesak. Selimut halimun khas pegunungan diam-diam datang perlahan, menyelimuti jiwa-jiwa yang telah berhasil melawan keegoannya sendiri.

 

Kampung Cibeo, Rumah Ayah Yayat

Tengah malam itu, aku duduk di depan perapian dekat ruang tamu, meminum teh di segelas bambu. Lumayan untuk menghangatkan badan, malam di Cibeo lumayan dingin, udara dinginnya tak terasa dingin, sedikit sejuk, kulihat para peserta Gong Traveling sudah tertidur pulas. Perlahan aku terhanyut sebuah renungan diri di depan tungku perapian itu, merenung tentang hakikat manusia kepada alam, dan hakikat manusia kepada Tuhan-nya.

Sambil memandang perapian di depanku, dengan tanpa tutor, aku perlahan memahami sebagai seorang manusia seutuhnya, seorang manusia yang hidup dalam bentangan alam. Kita tidak bisa memungkiri bahwa kita makhluk sosial, kebutuhan kita takkan bisa terpenuhi apabila ketidakadaan komunikasi dan juga pretensi. Sebuah perasaan luhur yang sah, bila keegoan manusia seharusnya berdifusi dengan keyakinan teguh untuk saling membantu satu sama lain, bukan lebih mementingkan kepentingan diri sendiri apalagi golongan. Lebih dari itu, aku teringat sebuah sabda Rasulullah SAW yang diceritakan atau diriwayatkan oleh sahabat tentang hakikat seorang Muslim, bahwa sebaik-baik manusia, adalah manusia yang bermanfaat untuk manusia lainnya. Aku tersadar dari renunganku, kayu-kayu hutan terbakar perlahan, kutambah beberapa untuk menghangatkan suasana yang perlahan dingin. Dan aku diserang kantuk dan tertidur.

 

Ciboleger, Menuju Pulang

Sang mentari terbangun dari ufuknya, burung-burung bersahutan di pepohonan, udara sejuk nan segar terasa di mana-mana, ingin aku tidak pulang barang sehari lagi, tapi apa daya tugas harus diselesaikan dengan sebaik-baiknya.

Kulihat pagi itu semua peserta riang gembira, ada yang sedih karena kapan lagi mereka akan mampir ke sini lagi, ada yang masih belum sadar dari rasa kantuknya, yang pagi itu melanda. Aku selalu merindu akan semua kebaikan alam, merindu sejuknya udara segar, merindu segala ketenangan alamnya, merindu perenungan jiwa akan pertanyaan-pertanyaan hidup. Merindu semua tentang persahabatan dan saling berbagi. Apakah segala kesunyian malamnya bisa menjadi jawaban akan kegetiran hidup? Banyak hal yang menginspirasi kehidupan yang bisa kita lihat di sini, tentang bagaimana sebuah kebudayaan tak bercampur dengan modernitas kemajuan peradaban, tentang bagaimana selaiknya peraturan adat dijunjung tinggi, dan terakhir bagaimana sebaiknya kita menjaga dan menghargai alam.

Terakhir, sebagai penutup catatan perjalanku, aku sengaja membuatkan puisi untuk mengingat semua kerinduanku kepada mereka.

 

Oh hijau pohon, kau sejuk benar.

Tak tercemar walau sehadang sampah menghadang.

Dan sekumpul asap menyekapmu dalam diam.

Oh biru sungai, kau tenang benar.

Tak takut memang kau?

Tersapu sampah jalanan

Kau tetap satu harmoni

Tentram dan damai menyejukan hati

Baduyku yang sejuk dan damai

Lestarilah

 

Baduy memang menyimpan segala cerita, cerita tentang keceriaan hidup, tentang persahabatan abadi. Semoga menginspirasi. Salam lestari. (*)

 

Yehan Minara, Keliling Indonesia Timur dengan Truck dan Pick Up

Sungguh luar biasa. Malam ini ada aliran energi positif yang boleh kami dapatkan gratissss dari seorang perempuan perkasa. Di teras rumah ini, kami dikunjungi seorang perempuan petualang. Yehan Minara namanya.Putri Banten ini, hanya dengan membaca tulisan- tulisan tentang Indonesia Timur, Ia bermimpi dan dari mimpi itu, mendorongnya untuk berkeliling dan merasakan langsung kehidupan masyarakat di Indonesia bagian timur.

Uniknya, kendaraan yang Ia gunakan adalah truck dan pick up. Dan, tergantung dari orang – orang yang berniat baik untuk memberinya tumpangan.

Ada misi jurnalis, mendorong aktivis Komunitas Rumah Dunia berani berpetualang. Tentu dengan tantangan yang tidak mudah. Tidur di jalan, emperan toko, di Polres Rumah sakit bertemu dengan orang mabuk, orang usil, menjadi bagian dari kisah petualangannya.

Juni 2017 Ia keluar dari Kota kelahirannya di Banten menuju Bali. Kurang lebih satu bulan berproses di Bali, merasakan kehidupan di Bali. Bermodalkan uang tiga ratus ribu, membuatnya harus berpetualang, sambil bekerja.

Zaeni Boli, adalah orang pertama yang bertemunya di Kota Larantuka Flores Timur. Oleh Zaine Boli pula kami dipertemukan dengannya. Petualangannya ke Sumbawa, Labuan Bajo, Bajawa, Ende, Maumere dan akhirnya ke Larantuka, menjadi cerita yang menarik untuk didengar. Sangat menginspirasi. Dengan berpetualang membuatnya merekan banyak hal, banyak cerita dan memotret segudang kisah. Kisah menarik juga yang kurang menarik. Ia sepertinya sangat fasih bercerita tentang sisi sisi lain, dari daerah yang ia singahi, yang itu luput dari perhatian penghuninya.

Sebelum ke Kupang, terus ke Atambua dan Papua, besok Kamis (19/11/17) rencananya ia akan menginjakan kakinya di Danau Asmara, Kecamatan Tanjung Bunga Flotim.

Semoga warga Flotim yang sempat bertemu dengannya di jalan dapat menyapa, memberi senyum, tumpangan, atau seteguk air putih untuk menguatkan jalan dan mendukung misi sosialnya.

Awal hingga akhir petualangannya, akan ia kisahkan dalam bukunya, yang akan ia cetak, sebagai oleh – oleh jurnalis.

Tidak saja menggunakan teori- teori untuk bercerita dan berargumentasi tetapi terjun langsung ke lapangan, merekam, mengalami langsung sebagai cerita yang riil dan bermanfaat yang mampu menggerakan dan menginspirasi, hingga mampu mengubah. (Maksimus Masa Kian)

Agenda Gong Traveling 2018

Sudah Oktober lagi. Tahun 2018 menanti. Rencana apa yang ada di dalam saku Anda? Membuat paspor? Membuka peta perjalanan? Jika ingin asik, mari bergabung dengan Gong Traveling, bukan sekadar traveling, tapi traveling sambil nulis bersama Gol A Gong. Ini dia agenda perjalanan yang sudah disusun :
#JalurSutra
Jelajah Singapore, Malacca, Kuala Lumpur: 19 – 23 Januari 2018. Pendaftaran ditutup 23 November 2017. Biaya Rp 5 juta. Minimal 10 orang. Narahubung Tias Tatanka di 081906311007.

#MaThaTravelling
Xplore Malaysia (Kualalumpur) – Thailand (Hat Yai – Bangkok): Februari 2018. Pendaftaran ditutup Desember 2017. Sudah tertarik 18 orang (confirm, tanggal belum dipastikan). Biaya Rp. 6 jt. Narahubung Tias Tatanka di 081906311007

#XploreWat
Jelajah Bangkok (Arum Wat) Dan Sie Rap (Angkor Wat ) Dan Phnom Penh (Polpot Genosida) . Minimal 10 orang. Siap berangkat 16 Maret – 20 Maret 2018. Biaya Rp. 6 juta. Pendaftaran ditutup 10 Desember 2017. Sudah 2 orang mendaftar. Narahubung Tias Tatanka di 081906311007.

#Xploresingapore
Anda yang menentukan waktunya. Kita menjadi warga Singapore Selama tiga hari dua malam. Biaya Rp. 3 juta. Ada paket hemat Rp 2,4 juta, minimal 3 bulan sebelumnya mendaftarkan diri. Tanpa bagasi dan tanpa asuransi. Waktunya Anda yang menentukan sendiri. Minimal 15 orang.

Ayo, menabung dari sekarang. Mari kita perluas cakrawala berpikir kita. Jika Anda dan komunitas tertarik mengatur agenda sendiri, silahkan ke Narahubung Tias Tatanka di 081906311007.

*) Biaya hanya untuk tiket pesawat dari Jakarta ke negara tujuan PP, penginapan, workshop travel writing dan penerbitan buku ber-ISBN. Untuk makan dan transportasi lokal ditanggung sendiri.

Ayo, kemasi ranselmu!

*****

PAKET HEMAT XPLORE SINGAPORE RP. 2,4 JUTA

Ini paket hemat Rp 2,4 juta, minimal 3 bulan sebelumnya mendaftarkan diri. Peserta paling sedikit  15 orang. Tour guidenya para relawan Rumah Dunia. Biaya itu untuk tiket pesawat Jakarta-Singapura PP (tanpa bagasi), penginapan dan penerbitan buku catatan perjalanan ber ISBN. Jika ingin traveling bersama Gol A Gong Rp. 3 juta (sudah plus bagasi pulangnya). Agendanya, catat ya:

9-11 Januari 2018 bersama Jack Alawi . Pendaftaran ditutup 10 Desember 2017.

27-29 Maret 2018 bersama Baehaqi Muhammad. Pendaftaran ditutup 25 Februari 2018.

15-17 Mei 2018 bersama Charlis Ridho. Pendaftaran ditutup 10 April 2018.

12-14 September 2018. Harga promo Rp. 2 juta. Segera. Pendaftaran ditutup 10 Maret 2018.

Ayo, menabung dari sekarang. Mari kita perluas cakrawala berpikir kita. Jika Anda dan komunitas tertarik mengatur agenda sendiri, silahkan ke Narahubung Tias Tatanka di 081906311007.

*) Biaya paket hemat Rp. 2,4 juta hanya untuk tiket pesawat dari Jakarta ke negara tujuan PP, penginapan, workshop travel writing dan penerbitan buku ber-ISBN. Untuk makan dan transportasi lokal ditanggung sendiri.